10 Agenda Kerja Freemasonry

Freemasonry secara bahasa terdiri dari dua kata, Free dan Mason. Free artinya merdeka dan mason artinya tukang bangunan. Dengan demikian Freemasonry secara etimologis berarti “tukang-tukang bangunan yang merdeka”.
Secara hakikat, Freemasonry atau Al-Masuniyyah (dalam bahasa Arab) adalah sebuah organisasi Yahudi Internasional bawah tanah yang tidak ada hubungannya dengan tukang-tukang bangunan yang terdapat pada abad pertengahan.
Freemasonry di atas juga tidak ada hubungannya dengan kegiatan pembangunan kapal atau katedral besar seperti yang banyak diduga oleh sebagian orang. Tetapi maksudFreemasonry di sini adalah tidak terikat dengan ikatan pihak manapun kecuali sesama freemason.
Freemasonry berasal dari gerakan rahasia yang dibuat oleh sembilan orang Yahudi di Palestina pada tahun 37 M, yang dimaksudkan sebagai usaha untuk melawan pemeluk Masehi, dengan cara pem*bunuhan terhadap orang per-orang.
Menurut buku Kabut-kabut Freemasonry, salah seorang yang disebut sebagai pendirinya adalah Herodes Agrida I (meninggal 44 M). Ia dibantu oleh dua orang Yahudi, Heram Abioud dan Moab Leomi.Freemasonry selanjutnya menempatkan dirinya sebagai musuh terhadap agama Masehi maupun Islam.
Pada tahun 1717 M gerakan rahasia ini melangsungkan seminar di London di bawah pimpinan Anderson. Ia secara formal menjabat sebagai kepala gereja Protestan, namun pada hakikatnya adalah seorang Yahudi. Dalam seminar inilah gerakan rahasia tersebut memakai namaFreemasonry sebagai nama barunya. Sebagai pendirinya adalah Adam Wishaupt, seorang tokoh Yahudi dari London, yang kemudian mendapatkan dukungan dari Albert Pike, seorang jenderal Amerika (1809-1891).
Organisasi ini sulit dilacak karena strukturnya sangat rahasia, teratur, dan rapi. Tujuan gerakan Freemasonry secara umum adalah:Menghapus semua agama, menghapus sistem keluarga, mengkucarkacirkan sistem politik dunia, selalu bekerja untuk menghancurkan kesejahteraan manusia dan merusak kehidupan politik, ekonomi, dan sosial negara-negara non-Yahudi atau Goyim (sebutan dari bangsa lain di luar Yahudi).
Tujuan akhir dari gerakan Freemason adalah mengembalikan bangunan Haikal Sulaiman yang terletak di Masjid Al-Aqsha, di kota Al-Quds (Yerussalem), mengibarkan bendera Israel, serta mendirikan pemerintahan Zionis Internasional, seperti yang diterapkan dalam Protokol para cendekiawan Zionis.
Buku Protokol ini berisikan langkah-langkah yang telah ditetapkan oleh para hakkom, catatan pembicaraan yang dilakukan di dalam setiap rapat mereka,serta berisikan 24 bagian (ayat) yang mencakup rencana politik, ekonomi, dan keuangan, dengan tujuan menghancurkan setiap bangsa dan pemerintahan non-Yahudi,serta menyiapkan jalan penguasaan bagi orang-orang Yahudi terhadap dunia Internasional.
Dalam gerakannya, Freemasonry menggunakan tangan-tangan cendekiawan dan hartawan Goyim, tetapi di bawah kontrol orang Yahudi pilihan. Hasil dari gerakan ini di antaranya adalah mencetuskan tiga perang dunia, tiga revolusi (Revolusi Perancis, Revolusi Amerika, dan Revolusi Industri di Inggris), melahirkan tiga gerakan utama (Zionisme, Komunisme, dan Nazisme)
Freemansory terbagi ke dalam tiga tingkatan:
(1) Majelis Rendah atau Freemansory Simbolis;
(2) Fremansory Majelis Menengah; dan
(3) Fremansory Majelis Tinggi.
Dalam penerimaan keanggotaan, Freemasonry tidak mempersoal*kan agama calon anggota. Bahkan calon anggota disumpah sesuai dengan agama yang dianutnya. Dalam Freemasonry diadakan model kenaikan pangkat hingg level ke-33 bagi orang-orang Goyim. Orang-orang yang berhasil dijaring kemudian diberikan tugas untuk menyebarkan pahamFreemasonry dan bekerja untuk mereali*sasikan tujuannya.
Orang-orang tertarik kepada Freemasonry karena mereka menganggap bahwa organi*sasi ini bergerak di bidang kemanusiaan. Di balik itu mereka menanamkan doktirn Pengembangan Agama atau Polotisme, yang mengatakan semua agama itu sama, baik, dan benar. Lebih jauhFreemasonry dengan secara halus membawa anggotanya memahami Atheisme.
Freemasonry, organisasi Yahudi yang telah didirikan sejak lebih kurang tahun 900 SM, memiliki sepuluh program internasional.
Program ini dalam istilah Freemasonry dinamakan Harar atau Satanim, berlambangkan gurita berkaki sepuluh ular berbisa berkepala sepuluh, dan hantu penerkam berkuku baja.
Program Pertama
Program pertama dalam istilah Freemasonry dinamakan Takkim.
Pada masa Isa a.s.
Orang orang yahudi dengan segala tipu daya ingin membunuh Nabi Isa a.s. diantaranya fitnahan keji “ingin menjadi Raja Yahudi”yang disampaikan pada penguasa Romawi. Tetapi Allah SWT menyelamatkan Nabi Isa a.s. dan gantinya Yudas tersalib di Golgota. Maka setelah tiadanya nabi Isa, Yahudi berusaha menghancurkan ajran yang sudah disebarkan dengan “Takkim” yaitu :
# Merusak ajarannya yang ada seperti menghalalkan yang halal dan sebaliknya.
# Merusak akidah dengan doktrin Trinitas.
# Merusak Injil yang ada dengan Injil palsu.
# Saul (Paulus) dijadikan tandingan Nabi Isa a.s.
Pada Masa Islam
# Pada masa Rasulullah orang-orang Yahudi memupuk Munafiqin dan Muhadin. Mereka diantaranya berusaha menfitnah istri Nabi, mengacaukan ajaran Islam, memecah belah kaum Anshor dan Muhajirin.
# Memecah belah Ali r.a dan Muawiyah r.a. sehingga Aisyah turun tangan.
# Membuat ratusan hadist-hadist palsu, memsukkan dongeng Israiliyat merubah penafsiran Al-Quran dan sebagainya.
# Mendangkalkan aqidah umat dengan filsafat Yunani sehingga timbul aliran kerahiban, tarikat sufi, mu’tazilah dan sebagainya. Maka datangalah filsuf-filsuf Islam yang menguraikan akidah islam dengan jalan filsafat Yunani, menuruti pikiran Aflatun (Plato), Aristun (Aristoteles) dan lainya.
# Membuat lembaga pendidikan Islam yang dipimpin seorang alim didikan Freemasonry yang menafsirkan Alquran dan hadist dengan alam pikiran Freemasonry.
# Menhidupkan sunnah-sunnah jahiliah dengan alasan melestarikan adat istiadat nenek moyang.
# Menjadikan Islam supaya Tasyabbuh dengan Nasrani dan agama lain, diantaranya dengan memasukkan bentuk nyanyian gereja ke masjid, ulang tahun dan sebagainya
Program Kedua
Program kedua dinamakan “Shada” dalam istilah Freemasonry berarti membentuk agama baru dan agama tandingan di seluruh dunia.
# Salah satunya yaitu di India ketika Islam bangkit untuk kembali ke Alquran dan Hadist dan mengobarkan Jihad fisabilillah, pihak penjajah Inggris bekerja sama denganFreemasonry mendirikan gerakan anti Jihad. Antara lain yaitu dengan menggalakkan sufi dengan perantara ulama bayaran anggota Freemasonry . Ditunjukkanya seorang Freemason “ Mirza Ghulam Ahmad”, ia mendakwakan dirinya sebgai Nabi akhir zaman , Bhuda awatara, Krisna, dan semacamnya.
# Rabithah Alam islami yang bersidang di Makkah 14-18 Rabiul Awal1394 memutuskan bahwa Ahmadiyah itu bukan Islam dan berkaitan dengan Zionisme.
# Dan kasus-kasus “aliran sesat islam” yang beredar di indonesia seperti sholat dua bahasa dan lainya, kemungkian besar berkaitan dengan program Freemasonry.
Program Ketiga
Program ketiga dinamakan parokim, dalam istilah Freemasonry:
# Membuat gerakan yang bertentangan untuk satu tujuan Mengembangkan Freemasonry lokal dalam suatu negara dengan nama lokal, tetpi tiada lepas dari asas dan tujuan Freemasonry.
# Mendukung tori-teori bertentangan.
# Membangkitkan kufarat dan menyiarkan teori Sigmond Freud dan Charles Darwinsehingga antara antara Ilmu pengetahuan dan agama bersaing, kalah mengalahkan.
Program Keempat
Program keempat dinamakan Libarim, dalam istilah Freemasonry :
# Melenyapkan etika klasik yang mengekang pergaulan muda-mudi, termasuk melalui penyebaran kebebasan seksual.
# Mengahpus hukum yang melarang kawin antaragama untuk menurunkan generasi bebas agama.
# Pengambangan pendidikan seks di sekolah-sekolah
# Persamaan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal “kedudukan waris” dan “pakaian”.
# Mengembalakan pemuda-pemudi kedunia khayali, dunia musik, dan narkoba. Serta membuat bet satan (rumah setan) untuk menampung pemuda-pemudi kealamnya.
# Mengorganisir kaum lesbian, guy, lutherianserta pengakuan hak mereka dalam hukum.
Program Kelima
Program kelima dinamakan Babill, dalam istilah Freemasonry yakni memupuk asas kebangsaan setiap bangsa dan menjaga kemurnian bangsa Yahudi.
Program Keenam

Program Keenam ini dinamakan Onan dalam istilah Freemasonry:
# Mengekang pertumbuhan bangsa Goyim (orang selain Yahudi).
# Menyuburkan perempuan-perempuan Yhaudi menjadi peridi.
Program Ketujuh

Program ketujuh dinamakan protokol. Dalam istilah Freemasonry, protokol khusus untuk program bangsa Yhaudidalam Suhyuniah (zionisme) yang dimulai dengan pengantar protokol.

Isi protokol adalah tentang rencana Yahudi untuk menguasai dunia, diantaranya peghancuran ekonomi suatu negara, penghancuran moral suatu bangsa dan banyak lagi. Dengan program protokol bangsa Yahudi dapat menjadi penguasa ekonomi dunia, pengatur Politikdan penerangan dunia.
Program Kedelapan

Program kedelapan ini disebut Gorgah, dalam istilah Freemasonry :

# Untuk merusak para pemimpin negara, ulama dan partai, mereka harus dijerumuskan dalam pasar seks dengan seribu satu jalan. Pepatah Yahudi mengatakan”jadikanlah perempuan cantik untuk alat suatu permainan siasat.”
# Membuat jerat dan jala seks bagi seseorang yang terhormat. Jika namanya disiarkan sehingga kehormatanya jatuh.
# Menyebarkan agen Kasisah, yaitu intel Fremasonry untuk menghancurkan martabat lawan ditempat-tempoat maksiat.
# Mendirikan gedung perjudian terbesar dan modern.
# Melemahkan pasukan lawan dengan perempuan dan obat khusus.

Program Kesembilan

Program kesembilan dinamakan Plotisme yaitu:
# Mendidk alim ulama dalam Plotis yang pahamnya terapung ambang.
# Alim ulama plotis itu disebarkansebagai tenaga pengajar di sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga Islam.
# Alim ulama Plotis harus diangkat menjadi anggota kehormatan Freemasoonry.
Program Kesepuluh

Program kesepuluh ini dinamakan Qornun, dalam istilah Freemasonry :

# Orang-orang yang terpilih yang berbahaya bagi Freemasonry didukung agar menjadi kaya sehingga bergelimang harta, tetapi akhirnya di peras secara halus oleh suruhan Freeemasonry.
# Memberi dana pendidikan bagi pendidikan agama dalam hal berniaga, bertani, dan sebgainya sehingga mereka sibuk dalam keduniaan.
# Lawan-lawan Freemasonry agar terjerat riba dan bank Freeamsonry.
# Menghasut dan memberi jalan dengan berbagai cara agar para pejabat bank diluar bank Yahudi melakukan korupsi sehingga bank tersebut hancur dan kelak bank itu dibantu oleh bank Freemasonry dengan ikatan yang kuat. Bank itu akan bersiri kembalio dengan tujuh puluh lima persen modal Yahudi. Kemuidan pemimpin bank dan karyawan tersebut diberi ajaran Freemasonry dan menjadi anggotanya..
Sumber : http://forum.vivanews.com/showthread.php?t=28350
Advertisements

kapitalisme,perbudakan yang tak pernah habis

Jauh sebelum era modern muncul pada peradaban manusia, sistem atau ideologi liberalisme telah ada dan digunakan oleh manusia. Orang-orang yang mempunyai modal (capital) bergerak bebas dalam menciptakan produksi mandiri. Banyak dari mereka atau orang-orang bermodal tidak hanya menciptakan produksi, tetapi juga menyerap tenaga kerja dalam mencapai tujuan industrinya. Lambat laun sejalan dengan berkembangnya industri para pemilik modal, menyebabkan terjadinya produksi yang berlebihan atau over-production. Dengan adanya over-production, para pekerja (buruh) terpaksa bekerja tak kenal waktu siang sampai malam sehingga mencapai tingkat kejenuhan. Tingkat kejenuhan inlah yang disebut oleh pemikir sosial, Karl Marx sebagai alienasi. Perbedaan ini yang menghasilkan segmentasi kelas-kelas sosial tertentu dimana borjouis sebagai pemilik modal dan proletariat sebagai kelas pekerja.

Upah akan naik dan turun sesuai dengan hubungan penawaran dan permintaan, sesuai dengan perubahan yang terjadi dalam persaingan antara pembeli tenaga kerja, yaitu kaum kapitalis, dengan penjual tenaga kerja, yaitu kaum buruh. Turun-naiknya upah pada umumnya bersesuaian dengan turun-naiknya harga-harga komoditi. Kapitalis dimana saja selalu berbicara bahwa nilai upah ditentukan oleh nilai kerja dan waktu kerja. Waktu kerja disini adalah jam-jam dari proses produksi yang dikerjakan oleh buruh. Kenyataannya untuk jam-jam yang sama (8 jam kerja sehari) kelihatan kapitalis dari berbagai pabrik memberikan nilai upah yang berbeda-beda. Kalau dikatakan nilai kerja (jumlah barang dan mutunya), maka kapitalis tentu harus membayar lebih tinggi kepada buruh yang lebih terampil dan ulet. Tapi kenyataannya tidak. Kalaupun mereka mau memberikan sogokan kepada buruh yang terampil dan ulet dengan pemberian “bonus”, tentunya itu merupakan taktik pengusaha saja untuk meransang hasil yang jauh lebih besar dan maksimum.

Pada umumnya pengusaha selalu berpatokan kepada upah minimum atau upah sesuai dengan standar kehidupan hidup layak (KHL). Menurut Karl Marx, penentuan upah minimum selalu berpatokan kepada biaya hidup dan biaya reproduksi. Biaya hidup disini meliputi nilai-nilai barang-barang seperti tempe, minyak goreng, beras, sewa kamar kos, tarif angkutan, dan lain-lain yang memungkinkan buruh tetap bertahan hidup dan bisa melangjutkan kerja esok hari (sesuai masa kerja yang dibutuhkan). Sedangkan biaya reproduksi meliputi prakondisi-prakondisi sosial bagi pekerja dan keluarganya (ras buruh) bisa berkembang biak dan menggantikan tenaga-tenaga yang sudah aus.

Beberapa faktor yang mempengaruhi negosiasi upah adalah;

pertama, harga-harga komoditi barang yang menjadi kebutuhan buruh. Kenaikan harga kebutuhan pokok (sembako) di pasar akan mempengaruhi negosiasi pekerja dan pengusaha, karena ini menyangkut eksistensi pekerja untuk tetap dapat bertahan hidup dan datang bekerja.

Kedua, tingkat persaingan di pasar tenaga kerja. Semakin banyak jumlah angkatan kerja baru tidak dibarengi dengan perluasan lapangan kerja baru akan menciptakan kompetisi di pasar tenaga kerja. Tentunya, dengan jenis barang dan mutu yang sama, kemudian dijual dengan harga lebih murah, tentunya akan mendesak kompetitor (saingan) keluar dari pasar.

Ketiga  tingginya produktifitas dan intensitas kerja seiring dengan perkembangan kapital. Jadi kerja satu jam akan menciptakan lebih banyak nilai di suatu negeri yang maju di bandingkan dengan negeri yang kurang maju. Ini menjelaskan kenapa muncul perbedaan upah di negara-negara maju dengan negara-negara berkembang atau perbedaan antara nilai upah di kota dan desa. Makin berkembang kapital produktif, maka makin makmur pengusahanya, makin berkembang pabriknya, makin banyak buruh yang dibutuhkan dan makin naik daya tawar buruh terhadap.

Keempat kekuatan gerakan buruh di pabrik, suatu wilayah atau sebuah negara. Di pabrik yang gerakan buruhnya kuat, memungkinkan untuk memenangkan nilai upah yang lebih tinggi ketimbang pabrik lain. Hal ini juga menjelaskan pentingnya gerakan politik dalam hal perjuangan pengupaham; di negara-negara yang gerakan buruhnya kuat dan politis tentu akan leluasa memaksakan kebijakan-kebijakan politis di bidang pengupahan yang menguntungkan. Karena tarikan penentuan upah minimum selalu berdasarkan region (administrasi pemerintahan) atau upah nasional (negara), maka perjuangan politik menjadi syarat mutlak kaum buruh bisa mendapatkan sedikit perbaikan dalam hal pengupahan.

Dalam melakukan pekerjaan di pabrik, kaum buruh bekerja menghasilkan dua nilai sekaligus yakni harga dari kerja (upah nominal) dan upah real. Upah nominal merupakan harga yang dibayarkan kapitalis atas tenaga kerja buruh-upahan. Sedangkan, upah real adalah nilai komoditi yang seharusnya didapatkan oleh buruh tetapi dirampas oleh kapitalis sebagai laba. Bagi kapitalis harga penjualan komoditi yang dihasilkan oleh buruh terbagi menjadi tiga bagian;

1.      penggantian harga bahan-bahan mentah (pabrik, bahan baku, listrik, dan lain-lain) yang dibayarkan pengusaha lebih dulu bersamaan dengan biaya pergantian penyusutan perkakas-perkakas yang dipergunakan.

2.      penggantian nilai upah (harga kerja) dari tenaga kerja buruh;

3.      kelebihan yang tersisa atau keuntungan (laba);

Faktor yang pertama adalah faktor yang konstant (tetap) tidak dapat diganggu gugat, sedangkan yang kedua dan ketiga merupakan nilai baru yang sebenarnya diciptakan oleh tenaga kerja buruh. Sehingga boleh dikatakan bahwa upah dan laba sebenarnya sama-sama berasal dari keringat sang buruh.

Akan tetapi, upah dan laba berbanding terbalik satu sama lain dan tidak pernah ada titik temu. Kalau upah pekerja naik, maka nilai laba kapitalis akan menurun, demikian pula sebaliknya. ”Laba naik sebanyak turunnya upah; laba turun sebanyak naiknya upah”. Kalaupun pengusaha bisa meningkatkan laba dengan jalan lain seperti pembukaan pasar baru, penyingkiran terhadap kapitalis lain, atau mempercanggih atau memodernkan alat produksi, maka, tetap saja tidak ada kaitannya dengan naik-turunnya upah kerja. Yang bertambah hanya laba, sedangkan secara real upah buruh akan menurun karena kerja yang dibayar tetap saja lebih kecil dibandingkan dengan laba bersih si-kapitalis.

Pencurian Nilai Lebih

Pada bagian ini, kita akan membahas nilai upah riil yang seharusnya dinikmati buruh tetapi dikuasai oleh kapitalis. Tadi didepan sudah dijelaskan bahwa kapitalis dimanapun selalu mendasarkan pembayaran upah buruh pada ketentuan soal upah mimimum. Penerapan upah minimum di Indonesia juga memiliki dimensi politik. Selama ini, pemerintah selalu mengutak-ngatik komponen upah (selain pembungkaman serikat buruh) sebagai keunggulan komparatif untuk menarik investasi masuk dalam ekonomi dalam negeri.

Kerja yang dilakukan oleh buruh sebenarnya mengandung dua aspek;

  • Kerja wajib (necessary labour time) adalah bagian kerja dimana si pekerja  bekerja untuk si kapitalis yang membayarnya.
  • Kerja tidak wajib atau kerja lebih adalah kelebihan dari kerja yang dibayarkan oleh kapitalis kepada buruh.

Dua pencurian nilai lebih dengan memanfaatkan jam kerja;

(1) Dengan perpanjangan jam kerja; cara memperpanjang jam kerja macam-macam; memperpendek atau menghapus jam istirahat, mengambil hari libur;

(2) Dengan pemotongan jam kerja, tapi dengan peningkatan produktifitas; memasang target, sistem bonus dan promosi jabatan bagi yang paling produktif;

Yang ingin kita kritisi lebih lanjut itu adalah mengenai pemberian bonus dan promosi jabatan bagi yang memenuhi target pencapaian pasar. Dalam hal ini pihak kapitalis itu berfikir apabila diberikan bonus atau promosi jabatan, produktifitas para pekerja atau buruh akan semakin meningkat. Dan hal tersebut memang terjadi dan diminati oleh pekerja atau buruh agar semakin terpacu pencapaian target yang ditentukan pihak kapitalis. Dalam hal ini kaum memandangnya sebagai konsep mutualisme yang menguntungkan pihak pekerja dan pihak bos mereka. Tapi pada sisi pemikiran seorang bos itu tidak semudah diinterpretasikan seperti itu. Karena dalam hal kapitalis itu laba yang harus diperoleh harus sebanyak mungkin. Sehingga pada kenyataannya hasil kerja mereka yang begitu keras untuk mencapai target terkadang tidak sesuai dengan pendapatan bonus yang diberikan oleh pihak kapitalis. Itu dikarenakan rumitnya dan sangat sistematisnya perbisnisan pihak kapitalis sehingga pihak buruh yang pada umumnya kurang memahami tidak mengetahui hal tersebut.

Hal ini dikarenakan tekanan yang dialami oleh pihak buruh mengenai masalah ekonomi mereka, sehingga ketika melihat adanya hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan pendapatan, mereka seketika mengejar kesempatan tersebut untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik dari sebelumnya.

Pada dasarnya buruh kurang mengenal dengan yang apa namanya sistematis bisnis yang dijalankan oleh pihak kapitalis, sehingga sebagai pekerja yang menolak untuk dijajah oleh pihak kapitalis hendaknya lebih mengenali masalah ini agar mendapatkan pembayaran kerja yang sesuai dan lebih mudah untuk meningkatkan taraf hidup mereka.

Daftar Pustaka

Giddens, Anthony. 1999: The Third Way, Gramedia Pustaka Utama

Ign, Saksono Gatut. 2009: Neoliberalisme vs Sosialisme, Forkoma PMKRI Yogyakarta

Mohamad, Goenawan. 2001: Catatan Pinggir 5, Pustaka Utama Grafiti, Jakarta

Nalle, Matheos. 1996: Revolusi Hijau: Sebuah Tinjauan Historis-Kritis Gerakan Lingkungan Hidup di Amerika, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta

http://adasucimakbullah.blogspot.com/

Fenomena Subkultur, DIE HARD !

FENOMENA SUBKULTUR “BANDUNG DEATHMETAL SYNDICATE”

 

Bicara mengenai sub-kultur (budaya pinggiran) diperkotaan di Indonesia pasti tak lepas dari dari sederetan nama perkumpulan-perkumpulan anak muda seperti berikut ini yaitu punk, underground, skinhead atau rasta. Bisa dikatakan bahwa subkultur di Indonesia walaupun sempat booming pada awal 90’an dan lambat laun meredup tapi gaungnya masih ada sampai sekarang dan sedikit demi sedikit mulai muncul kembali melalui komunitas- komunitas anak muda yang solid tapi perlu dipahami lagi apa subkultur-subkultur yang ada di Indonesia yang lama maupun yang baru apakah benar-benar manifestasi perlawanan sebagian anak muda di Indonesia untuk menentang kapitalisasi global (seperti pada negara asalnya) yang mulai menguasai Indonesia? Atau hanya sekedar mode yang lambat laun akan hilang ditelan oleh waktu? Atau malah sebagai bentuk dekadensi moral pemuda bangsa kita?.

Sebelum kita bicara lebih lanjut mengenai subkultur ini lebih baik kita memahami terlebih dahulu apa yang disebut subkultur. Subkultur menurut Centre For Contemporary Cultural Studies (CCCS) di Universitas Birmingham bahwa Subkultural adalah gejala budaya dalam masyarakat industri maju yang umumnya terbentuk berdasarkan usia dan kelas. Secara simbolis ia diekpresikan dalam bentuk penciptaan gaya (styles) dan tidak semata merupakan penentang terhadap hegemoni atau jalan keluar bagi suatu ketegangan social.

Lalu siapakah remaja ini? remaja adalah sebuah konsep yang bersifat ambigu. Kadang bersifat legal dan kadang tidak. Di Indonesia misalnya, ukuran kapan seseorang boleh mulai melakukan hubungan seks, ukuran kapan seseorang boleh menikah, dan ukuran kapan seseorang boleh berpartisipasi dalam Pemilihan Umum sangatlah berbeda. Namun versi lain menyebutkan Masa remaja adalah masa seorang manusia berada dalam tahapan masa muda yaitu masa sebelum tua yang biasanya dicirikan oleh perkawinan. Di Indonesia, batasan usia remaja yang umum digunakan adalah 12-24 tahun dan belum menikah (Sarwono, 1994). Sedangkan WHO membagi kurun usia remaja ke dalam dua bagian, yaitu remaja awal (10-14 tahun) atau teenager dan remaja akhir (15-24 tahun) yang dikenal sebagai youth.

Dalam studinya tentang batas-batas kedewasaan di Inggris, A. James (1986) mengatakan bahwa batas usia fisik telah diperluas sebagai batas definisi dan batas kontrol sosial. Sementara bagi Grossberg (1992) yang menjadi persoalan adalah bagaimana kategori remaja yang ambigu itu diartikulasikan dalam wacana-wacana lain, misalnya musik, gaya, kekuasaan, harapan, masa depan dsb.

John Clarke dkk. (1976) dalam tulisannya yang berjudul Subcultures, Cultures, and Class menjelaskan bahwa remaja merasa dan mengalami dirinya berbeda. Perbedaan ini biasanya diperlihatkan dalam kegiatan dan kepentingan-kepentingan seumurnya.

Remaja juga biasanya ditandai oleh sifat yang mudah menyesuaikan diri dengan apa yang menjadi cita-citanya atau yang diinginkan terjadi pada dirinya (Soepardi, 1990). Oleh karena itu, lingkungan sosial cukup besar peranannya dalam proses pembentukan jati diri remaja.

Setidaknya ada tiga cara dalam melihat remaja. Pertama, masa remaja sebagai masa sosialisasi sikap dan pengetahuan yang sesuai untuk peran-peran dewasa tertentu. Kedua, masa remaja sebagai masa peralihan kedudukan dan peranan. Ketiga, masa remaja sebagai pemilik “kebudayaan remaja” yang besar sekali pengaruhnya dan dapat bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut orang dewasa (parker, 1976).

Remaja sadar akan pentingnya sebuah kebudayaan sebagai tolok ukur terhadap tingkah laku sendiri. Di satu sisi, kebudayaan utama memberikan pedoman, arah, dukungan, perasaan aman kepada remaja, dsb. di sisi lain, remaja juga memiliki keinginan untuk mandiri. Hal ini yang mendorong kebudayaan sendiri yang berbeda dengan kebudayaan pada umumnya.

Istilah kebudayaan remaja menunjukkan aspek cara hidup yang khas remaja. Persaingan dan protes (alienation and protest) adalah salah satu arahan yang dimunculkan oleh remaja sebagai bagian dari kebudayaan remaja. Arahan ini biasanya dimunculkan oleh remaja yang merasa dikecewakan oleh kondisi sosial yang sedang terjadi. Mereka mengekspresikan ketidakpuasan dengan menarik diri dari masyarakat atau secara aktif berusaha mengubah kebijakan dan kebiasaan. Pengasingan biasanya ditunjukkan dalam berbagai bentuk protes, seperti berbuat onar dan bertingkah apatis (Grinder, 1973).  

Lebih jauh Fischer (1976) menjelaskan bahwa pembentukan kebudayaan remaja merupakan hasil dari urbanisme. Pemusatan pada area perkotaan yang jumlah populasinya cukup besar dan heterogen akan melemahkan ikatan antarindividu, struktur-struktur sosial, dan consensus normatif yang dapat mengakibatkan pengasingan, disorganisasi sosial, dan anomi.

Jika orang-orang dewasa melihat masa remaja sebagai masa transisi, menurut Grossberg remaja justru menganggap posisi ini sebagai sebuah keistimewaan dimana mereka mengalami sebuah perasaan yang berbeda, termasuk di dalamnya hak untuk menolak melakukan rutinitas keseharian yang dianggap membosankan. Hampir sama dengan pendapat itu, Dick Hebdige dalam Hiding in the Light (1988) menyatakan bahwa remaja telah dikonstruksikan dalam wacana “masalah” dan “kesenangan” (remaja sebagai pembuat masalah dan remaja yang hanya gemar bersenang-senang). Misalnya, dalam kelompok pendukung sepakbola dan geng-geng, remaja selalu diasosiasikan dengan kejahatan dan kerusuhan. Di pihak lain, remaja juga direpresentasikan sebagai masa penuh kesenangan, dimana orang bisa bergaya dan menikmati banyak aktivitas waktu luang.

Secara khusus, dalam studinya tentang remaja, kajian budaya membuat sebuah konsep analisis tentang subkultur. Kata kultur dalam subkultur menunjuk pada “keseluruhan cara hidup” atau “sebuah peta makna” yang memungkinkan dunia bisa dimengerti oleh anggota-anggotanya. Kata sub mengkonotasikan kekhususan dan perbedaan dari kebudayaan yang dominan atau mainstream. Thornton mengatakan bahwa subkultur bisa juga dilihat sebagai sebuah ruang dimana “kebudayaan yang menyimpang” menegosiasikan kembali posisinya atau justru merebut dan memenangkan ruang itu (Barker 2000).

Menurut Clarke, subkultur remaja dapat diidentifikasikan dari sistem simboliknya, yaitu pakaian, musik, bahasa, dan penggunaan waktu luang. Bandung merupakan kota yang dikenal akan keberadaan komunitas-komunitas remajanya.

Biasanya komunitas ini dikembangkan atas dasar kegemaran pada hal yang sama, seperti otomotif, musik, dan fashion. Mereka menghabiskan waktu luang bersama kelompoknya dan mengembangkan bahasanya sendiri yang kerap sulit dimengerti orang dewasa.

Fenomena yang terjadi di Bandung sendiri adalah menjamurnya komunitas-komunitas underground. Mulai komunitas deathmetal, black metal, hardcore, punk, dan lainnya yang semakin banyak massanya sehingga pada saat ada event tertentu mereka mendominasi event tersebut. Dalam kehadiran mereka tersebut itu mereka menggunakan atribut/ ciri ciri khas dari aliran musik yang mereka gandrungi mulai dari pakaian, tata rambut, hingga cara mereka berbicara. Berbicara tentang identitas, identitas selalu berproses, selalu membentuk, di dalam bukan di luar representasi. Ini juga berarti otoritas dan keaslian identitas dalam konsep ’identitas kultural’ misalnya, berada dalam masalah (Hall dalam Woodward (ed.), 1997:51). Identitas hanya bisa ditandai dalam perbedaan sebagai suatu bentuk representasi dalam sistem simbolik maupun sosial, untuk melihat diri sendiri tidak seperti yang lain (Woodward dalam Woodward (ed.), 1997:8-15).

Identitas akan selalu mengalami perubahan, pada kadar sekecil apapun sesuai dengan perubahan sejarah dan kebudayaan. Percepatan tempo kehidupan dalam masyarakat pasca industri, serta percepatan pergantian tanda, citra, makna, kode dan tafsiran simbolik, yang menggiring ke dalam kondisi yang di sebut kondisi ekstase kecepatan, sebuah kondisi ketika manusia hanyut atau bahkan tenggelam dalam arus kecepatan (perubahan atau pergantian tanda, citra dan makna), sehingga tidak mampu menyerap dan mengendapkan segala perubahan menjadi sesuatu yang bermakna. Identitas bukan sesuatu yang tetap yang bisa kita simpan, melainkan suatu proses menjadi. Etnisitas, ras dan nasionalitas adalah konstruksi-konstruksi diskursif-performatif yang tidak mengacu pada ‘benda-benda’ yang sudah ada. Artinya, etnisitas, ras dan nasionalitas merupakan kategori-kategori kultural yang kontingen dan bukan ‘fakta’ biologis yang universal. Sebagai konsep, etnisitas mengacu pada pembentukan dan pelanggengan batas-batas kultural dan punya keunggulan dalam penekanannya pada sejarah, budaya dan bahasa.

Pada era 1970-an, seperti halnya gerakan feminisme, gerakan subkultur (hippies, punk, skin-head, metal, dan sebagainya) menjadi sebuah tantangan bagi kehidupan sosial, karena prinsip gerakan kultural adalah “memperebutkan identitas”. Subkultur adalah sebuah cara merebut dan membangun identitas budaya dalam bingkai ideologi yang baru, yang lebih tepat disebut sebagai sebuah gerakan budaya. Sebuah gerakan budaya dalam upaya mengekpresikan diri kelompok dan identitasnya, mereka sangat mengandalkan diri pada dunia komunikasi, tanda dan gaya. Subkultur adalah sebuah cara untuk mengkomunikasikan perbedaan dan sekaligus identitas kelompok, lewat tontonan gaya dan tanda (pakaian, aksesori, kendaraan, dan sebagainya). Sesuatu yang bersifat semiotik ( tanda dan makna).

Fenomena yang yang terjadi di bandung pada masa-masa sekarang ini adalah berkembangnya deathmetal di kalangan remaja dari mulai SMP, SMA, hingga mahasiswa dan orang-orang yang sudah bekerja. Death metal adalah sebuah sub-genre dari musik heavy metal yang berkembang dari thrash metal pada awal 1980-an. Beberapa ciri khasnya adalah lirik lagu yang bertemakan kekerasan atau kematian, ritme gitar rendah (downtuned rhythm guitars), perkusi yang cepat, dan intensitas dinamis. Vokal biasanya dinyanyikan dengan gerutuan (death grunt) atau geraman maut (death growl). Teknik menyanyi seperti ini juga sering disebut “Cookie Monster vocals”.

Beberapa pelopor genre ini adalah Venom dengan albumnya Welcome to Hell (1981) dan Death dengan albumnya Scream Bloody Gore (1987). Death metal kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh band-band seperti Cannibal Corpse, Morbid Angel, Entombed, God Macabre, Carnage, dan Grave.

Kemudian era 2000’an, Death Metal berkembang sangat pesat. Banyak band-band jebolan aliran death metal menjadi pembaharu dalam musik metal. Band-band tersebut antara lain Inhuman Dissiliency, Disavowed, Viraemia, Hiroshima Will Burn, Amon Amarth, Inveracity, The Berzeker, Dying Fetus, Condemned, dan masih banyak lagi.

Di Indonesia, genre ini diawali pergerakan dan perkembangan-nya di tahun 1990-an dengan band thrash metal Rotor di Jakarta. Pergerakkan utama Death Metal Indonesia berasal dari munculnya inisiatif oleh band Grindcore asal Malang, Rotten Corpse, yang menggarap untuk pertama kalinya (yang diketahui) musik Death Metal. Kemunculan dan permainan Rotten Corpse akan Death Metal merupakan pertanda dari lahirnya sebuah individu musik baru, bernama Death Metal. Beberapa band pioneer Death Metal lainnya di daerah lain, seperti Trauma dari Jakarta , Insanity dan Hallucination dari Bandung, Death Vomit dari Jogjakarta , Slow Death dari Surabaya, Murder dari Boyolali kemudian berkembang dengan band-band yang dianggap sebagai senior karena pengalamannya masing-masing seperti: Disinfected, Ancur, Plasmoptysis, Jasad dari Bandung, Siksa Kubur dari Jakarta, Funeral Inception dari Jakarta, Cranial Incisored dari Yogjakarta, Grind Buto dari Semarang,  Abysal, R.O.H, Blast Torment dari Padang, Total Rusak dari Bukittinggi, Praying For Suicide Tragedy dari Bukittinggi dan Jahanam Corpse dari Batam, Sacrament, Parkinson, NGAYAU, binasa dari Kalbar.

Perkembangan musik Death Metal di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat baik. Diantaranya terusulkannya suatu forum pusat dari pecinta Death Metal Indonesia, yang bernama forum Death Metal Indonesia, yang bernama Indonesian Death Metal atau disingkat IDDM. Kemudian juga muncul Indogrind.net, GUBUG RIOT, staynocase, dan lainnya. Saat ini, band-band baru Death Metal akan menyuarakan ‘suara-suara maut’ dalam event metal. Band-band Death Metal di Indonesia sekarang antara lain Dynasty of Waru, Bad Habit, Asphyxiate, Bleeding Corpse, Death Vomit, Kill Harmonic,  Infected Voice, Brain Ass, Hatestroke, Sickmath dan sebagainya.

Perkembangan Death Metal Indonesia setelah terciptanya IDDM, merupakan sebagai indikasi dan peresmian kelompok-kelompok Death Metal di seluruh wilayah Indonesia untuk go on public atau menunjukkan diri mereka masing-masing pada publik. Seperti pada saat ini, banyak sekali kelompok/komunitas Death Metal Indonesia di wilayah mereka masing-masing yang sudah menunjukkan diri mereka di Internet. Komunitas-komunitas tersebut masih merupakan bagian dari Indonesian Death Metal/IDDM. IDDM merupakan salah satu web penghubung yang menjadi tempat bertukar pikiran maupun aspirasi hingga media untuk iklan / promosi album maupun merchandise. Komunitas-komunitas tersebut diantaranya adalah Malang Death Metal Force, Bandung Death Metal, Bekasi HORDE! Death Metal, Jogjakarta Corpse Grinder, Magelang Death Metal Militia, Sukoharjo Death Metal, Semarang Death Metal, Bali Death Metal sampai Samarinda Death Metal dan masih banyak lagi komunitas di seluruh Indonesia. Ada juga beberapa subgenre death metal mulai dari :

  • Technical death metal – Death Metal yang dikembangkan dengan nada-nada diatonis, merupakan perkembangan dari musik Death Metal ke yang lebih kompleks. Seringkali diasosiasikan sebagai penggabungan antara death metal dengan progressive rock dan jazz fusion.
  • Melodic death metal – heavy metal dicampur dengan beberapa unsur Death Metal, misalnya death growl dan blastbeat.
  • Progressive death metal – gabungan antara death metal dan progressive metal
  • Brutal death metal – Brutal Death Metal merupakan perkembangan dari Death Metal itu sendiri. Brutal Death Metal merupakan salah satu perkembangan yang berhasil menghasilkan perkembangan lagi di genre Death Metal. Brutal Death Metal menghasilkan Slamming-Gore Brutal Death Metal, Slamming-Groove Technical Brutal Death Metal, Slamming Goregrind, dan lainnya.
  • Deathcore – gabungan antara metalcore/groove metal dengan death metal, merupakan genre Death Metal yang lebih menjurus kepada musik Post Hardcore.
  • Death/Doom – gabungan antara doom metal dan death metal
  • Blackened death metal – Blackened Death Metal merupakan usul-usul yang dilakukan oleh band-band Death Metal yang ingin menggabungkan kembali unsur Black Metal pada Death Metal seperti yang terjadi pada Era Pertama Death Metal, di mana Death Metal masih tercium bau-bau Black Metal.

Dilihat dari penjelasan di Identitas dapat dilihat sebagai sebuah konflik yang lengkap dengan daerah konflik atau medan dialognya. Identitas tersebut berusaha dibangun dan kemudian diperebutkan atau malah dipertentangkan, diubah, dipengaruhi, dilupakan atau juga ditinggalkan di dalam sebuah wacana. Identitas dalam sebuah masyarakat diingat, digali, dikumpulkan, diceritakan kembali atau malah dikubur, dilupakan dan dihapus dari pikiran kolektif. Identitas ditafsirkan sebagai sebuah budaya milik bersama, dimiliki secara bersama-sama oleh orang yang memiliki sejarah dan asal-usul yang sama. Identitas menjadi rantai perubahan secara terus menerus, sebagai bentuk pelestarian masa lalu atau warisan budaya (primordial) dan sebagai bentuk transformasi dan perubahan masa depan (kreatifitas perubahan budaya). Identitas digunakan untuk menjelaskan berbagai cara kita diposisikan dan sekaligus memposisikan diri kita secara aktif dalam narasi sejarah.

Khususnya dalam komunitas bandung deathmetal syndicate mengusung motto “panceg dina galur, moal ingkah najan awak lebur”. Kata tersebut berasal dari kalimat Panceg dina galur/babarengan ngajaga lembur. Moal ingkah najan awak lebur…” (Teguh dalam pendirian, bersama-sama menjaga kampung dan persaudaraan. Tidak akan bergeming walaupun badan hancur lebur). Petikan naskah kuno Amanat Galunggung yang dituliskan Rakeyan Darmasiksa (Raja Sunda Kuno yang hidup pada 1175-1297 Masehi) itu disadur menjadi lirik lagu berjudul ”Kujang Rompang” oleh Jasad, sebuah band beraliran death metal asal Bandung. Lagu ini ikut memeriahkan Deathfest IV, festival akbar death metal yang diadakan di Lapangan Yon Zipur, Ujungberung, Bandung, Sabtu (17/10). Ribuan anak muda, mulai dari pelajar SMP hingga mahasiswa, larut dalam hiruk-pikuk event musik metal yang disebut-sebut terbesar di Asia ini.

Filosofi panceg dina galur bukanlah sekadar inspirasi dalam berkarya musik bagi Jasad, melainkan juga menjadi pandangan hidup seluruh anggota dan penggemar musik metal di Bandung, khususnya yang bernaung di daerah Ujungberung. ”Mau seperti apa pun kita, macam mana bungkusnya, yang penting grass root (akar bawah) harus kuat. Harus sadar dan jangan lupakan budaya kita,” ujar Mohammad Rohman, vokalis Jasad. Bagi masyarakat awam, bahkan dibandingkan komunitas band metal lainnya di Indonesia maupun dunia, keberadaan subkultur band death metal asal Ujungberung ini merupakan sebuah paradoks. Musik metal, tetapi lirik dan pesan nyunda adalah perpaduan yang sulit ditemukan di tempat lain. Ketika di banyak tempat sub-subkultur atas nama aliran musik berhaluan Barat macam punk, grunge, maupun grindcore gencar melakukan perlawanan budaya lokal, entitas penggemar musik metal Ujungberung yang berada di wadah Ujungberung Rebels dan Bandung Deathmetal Syndicate itu justru melakukan hal sebaliknya.

Sebagai contoh, konser Death Festival IV yang diikuti 12 band death metal itu mengangkat tema kampanye penggunaan aksara kuno. Di festival yang menjadi salah satu pembuka penyelenggaraan Helar Festival 2009 (festival industri kreatif di Bandung) itu, panitia membagi-bagikan leaflet mengenai cara menulis aksara sunda kuno kagana kepada penonton yang rata-rata masih berusia ABG.

Pernyataan Man Jasad tentang lambatnya pemerintah yang lambat dalam melestarikan huruf sunda (kagana) ”Di sekolah-sekolah, saya lihat, ini (kagana) tidaklah diajarkan. Daripada kelamaan menunggu pemerintah bertindak, kami duluan saja yang mulai bergerak”. Di luar panggung, Man dan kawan-kawannya kerap memakai iket kepala sebagai penanda identitas kultur Sunda. Meski, sehari-harinya mereka tidak lepas dari jaket kulit hitam maupun aksesori anting-anting dan tato.

Upaya mengenalkan tradisi Sunda tidak terhenti di sana saja. Di dalam berbagai kesempatan, anak-anak Bandung Death Metal Sindikat kerap menyisipkan pertunjukan karinding, celempung, dan debus. ”Kesenian karinding yang selama 400 tahun tenggelam coba kami hidupkan kembali,” tutur Dadang Hermawan, anggota Bandung Death Metal Syndicate. ”Di tiap Minggu dan Jumat melakukan tumpek kaliwon di Sumur Bandung dan Tangkuban Parahu untuk membicarakan kesenian Sunda,” tutur Man Jasad kemudian.

Kelompok band metal yang ada di Ujungberung bahkan disebut-sebut yang terbanyak di dunia. Sejak awal 1990-an hingga kini, band-band metal tumbuh subur di Ujungberung. Saat ini terdapat sekitar 200 band metal hanya di wilayah pinggiran Kota Bandung ini.

”Padahal, Bandung hanya kota kecil jika dibandingkan dengan kota-kota di Jerman. Apalagi, di sini band-band ini kan harus dikondisikan bisa bertahan hidup di tengah banyak persoalan dan tekanan aparat,” tutur Philipp Heilmeyer, mahasiswa sosial-antropologi Goethe Universitat Frankfurt, terheran-heran. ”Di Jerman, kaum metal biasanya lekat dengan kebiasaan mabuk-mabukan dan narkoba. Tetapi, mereka di sini malahan melakukan ini,” ucapnya sambil merujuk kegiatan sosialisasi aksara kagana yang dilakukan Bandung Death Metal Sindikat.

Yang disesalkan Aris Kadarisman (35), pentolan grup band Disinfected, masyarakat, khususnya kepolisian, melihat kaum metal justru dari sisi kelamnya. Perang melawan stigma bahwa musik metal tidak identik dengan kekerasan, narkoba, dan semacamnya menjadi semakin sulit pascatragedi konser maut grup band Beside di Asia Africa Culture Center yang mengakibatkan tewasnya 11 penonton, Februari 2008. ”Padahal, ini terjadi lebih karena persoalan teknis, tidak cukupnya kapasitas tempat,” ucapnya.

Di tengah-tengah dorongan untuk mewujudkan mimpi memiliki gedung konser yang representatif, anak-anak metal ini seolah-olah terusir dari kota kelahirannya. Konser di gedung maupun tempat terbuka kini menjadi hal langka buat mereka. Deathfest IV pun bisa terwujud karena menggandeng kegiatan Helarfest 2009. Kondisi ini pun disayangkan Ketua Bandung Creative City Forum Ridwan Kamil. Menurut dia, jika dilihat lebih jauh dari dalam, komunitas metal di Bandung menyimpan keunggulan yang luar biasa besar. Keunggulan itu terutama soal kemandirian ekonomi. Dari musik yang diciptakan, didukung loyalitas para penggemarnya, secara tidak langsung itu menumbuhkan pula industri fesyen, rekaman, bahkan literasi.

Setidaknya, ada enam titik simpul industri fesyen yang dirintis sesepuh band metal di Ujungberung semacam Scumbagh Premium Throath yang didirikan almarhum Ivan Scumbag dari Burgerkill. ”Jika musisi lain itu filosofnya adalah musik untuk kerjaan, kami justru sebaliknya. Dari kerjaan, bisnis, ya untuk menghidupi musik,” tutur Dadang. ”Sebab, musik ini adalah the way of life kami. Tidak semuanya bisa dinilai dengan uang. Art is art, money is money,” ucap Man Jasad menimpali. Sehingga tidak diragukan lagi, kekuatan ketabahan hati dan pikiran inilah yang membuat kelompok metal di Bandung ini tetap bertahan. Persis sesuai dengan paradigma mereka: panceg dina galur, moal ingkah najan awak lembur.

Sumber            :

  • Hebdige, Dick.   Asal -Usul & Ideologi Subkultur Punk (terjemahan). Jakarta: Buku Baik, 2005.
  • Mangunhardjana, A., M.Sc.ED. Isme-Isme Dari A sampai Z, Jogjakarta: Kanisius, 1996.
  • Chang, William. Kerikil-Kerikil Di Jalan Reformasi CATATAN-CATATAN DARI SUDUT ETIKA SOSIAL.
  • Kimung. Beyond Life And Death : My Self Scumbag. Bandung. Revolt, 2007