10 Agenda Kerja Freemasonry

Freemasonry secara bahasa terdiri dari dua kata, Free dan Mason. Free artinya merdeka dan mason artinya tukang bangunan. Dengan demikian Freemasonry secara etimologis berarti “tukang-tukang bangunan yang merdeka”.
Secara hakikat, Freemasonry atau Al-Masuniyyah (dalam bahasa Arab) adalah sebuah organisasi Yahudi Internasional bawah tanah yang tidak ada hubungannya dengan tukang-tukang bangunan yang terdapat pada abad pertengahan.
Freemasonry di atas juga tidak ada hubungannya dengan kegiatan pembangunan kapal atau katedral besar seperti yang banyak diduga oleh sebagian orang. Tetapi maksudFreemasonry di sini adalah tidak terikat dengan ikatan pihak manapun kecuali sesama freemason.
Freemasonry berasal dari gerakan rahasia yang dibuat oleh sembilan orang Yahudi di Palestina pada tahun 37 M, yang dimaksudkan sebagai usaha untuk melawan pemeluk Masehi, dengan cara pem*bunuhan terhadap orang per-orang.
Menurut buku Kabut-kabut Freemasonry, salah seorang yang disebut sebagai pendirinya adalah Herodes Agrida I (meninggal 44 M). Ia dibantu oleh dua orang Yahudi, Heram Abioud dan Moab Leomi.Freemasonry selanjutnya menempatkan dirinya sebagai musuh terhadap agama Masehi maupun Islam.
Pada tahun 1717 M gerakan rahasia ini melangsungkan seminar di London di bawah pimpinan Anderson. Ia secara formal menjabat sebagai kepala gereja Protestan, namun pada hakikatnya adalah seorang Yahudi. Dalam seminar inilah gerakan rahasia tersebut memakai namaFreemasonry sebagai nama barunya. Sebagai pendirinya adalah Adam Wishaupt, seorang tokoh Yahudi dari London, yang kemudian mendapatkan dukungan dari Albert Pike, seorang jenderal Amerika (1809-1891).
Organisasi ini sulit dilacak karena strukturnya sangat rahasia, teratur, dan rapi. Tujuan gerakan Freemasonry secara umum adalah:Menghapus semua agama, menghapus sistem keluarga, mengkucarkacirkan sistem politik dunia, selalu bekerja untuk menghancurkan kesejahteraan manusia dan merusak kehidupan politik, ekonomi, dan sosial negara-negara non-Yahudi atau Goyim (sebutan dari bangsa lain di luar Yahudi).
Tujuan akhir dari gerakan Freemason adalah mengembalikan bangunan Haikal Sulaiman yang terletak di Masjid Al-Aqsha, di kota Al-Quds (Yerussalem), mengibarkan bendera Israel, serta mendirikan pemerintahan Zionis Internasional, seperti yang diterapkan dalam Protokol para cendekiawan Zionis.
Buku Protokol ini berisikan langkah-langkah yang telah ditetapkan oleh para hakkom, catatan pembicaraan yang dilakukan di dalam setiap rapat mereka,serta berisikan 24 bagian (ayat) yang mencakup rencana politik, ekonomi, dan keuangan, dengan tujuan menghancurkan setiap bangsa dan pemerintahan non-Yahudi,serta menyiapkan jalan penguasaan bagi orang-orang Yahudi terhadap dunia Internasional.
Dalam gerakannya, Freemasonry menggunakan tangan-tangan cendekiawan dan hartawan Goyim, tetapi di bawah kontrol orang Yahudi pilihan. Hasil dari gerakan ini di antaranya adalah mencetuskan tiga perang dunia, tiga revolusi (Revolusi Perancis, Revolusi Amerika, dan Revolusi Industri di Inggris), melahirkan tiga gerakan utama (Zionisme, Komunisme, dan Nazisme)
Freemansory terbagi ke dalam tiga tingkatan:
(1) Majelis Rendah atau Freemansory Simbolis;
(2) Fremansory Majelis Menengah; dan
(3) Fremansory Majelis Tinggi.
Dalam penerimaan keanggotaan, Freemasonry tidak mempersoal*kan agama calon anggota. Bahkan calon anggota disumpah sesuai dengan agama yang dianutnya. Dalam Freemasonry diadakan model kenaikan pangkat hingg level ke-33 bagi orang-orang Goyim. Orang-orang yang berhasil dijaring kemudian diberikan tugas untuk menyebarkan pahamFreemasonry dan bekerja untuk mereali*sasikan tujuannya.
Orang-orang tertarik kepada Freemasonry karena mereka menganggap bahwa organi*sasi ini bergerak di bidang kemanusiaan. Di balik itu mereka menanamkan doktirn Pengembangan Agama atau Polotisme, yang mengatakan semua agama itu sama, baik, dan benar. Lebih jauhFreemasonry dengan secara halus membawa anggotanya memahami Atheisme.
Freemasonry, organisasi Yahudi yang telah didirikan sejak lebih kurang tahun 900 SM, memiliki sepuluh program internasional.
Program ini dalam istilah Freemasonry dinamakan Harar atau Satanim, berlambangkan gurita berkaki sepuluh ular berbisa berkepala sepuluh, dan hantu penerkam berkuku baja.
Program Pertama
Program pertama dalam istilah Freemasonry dinamakan Takkim.
Pada masa Isa a.s.
Orang orang yahudi dengan segala tipu daya ingin membunuh Nabi Isa a.s. diantaranya fitnahan keji “ingin menjadi Raja Yahudi”yang disampaikan pada penguasa Romawi. Tetapi Allah SWT menyelamatkan Nabi Isa a.s. dan gantinya Yudas tersalib di Golgota. Maka setelah tiadanya nabi Isa, Yahudi berusaha menghancurkan ajran yang sudah disebarkan dengan “Takkim” yaitu :
# Merusak ajarannya yang ada seperti menghalalkan yang halal dan sebaliknya.
# Merusak akidah dengan doktrin Trinitas.
# Merusak Injil yang ada dengan Injil palsu.
# Saul (Paulus) dijadikan tandingan Nabi Isa a.s.
Pada Masa Islam
# Pada masa Rasulullah orang-orang Yahudi memupuk Munafiqin dan Muhadin. Mereka diantaranya berusaha menfitnah istri Nabi, mengacaukan ajaran Islam, memecah belah kaum Anshor dan Muhajirin.
# Memecah belah Ali r.a dan Muawiyah r.a. sehingga Aisyah turun tangan.
# Membuat ratusan hadist-hadist palsu, memsukkan dongeng Israiliyat merubah penafsiran Al-Quran dan sebagainya.
# Mendangkalkan aqidah umat dengan filsafat Yunani sehingga timbul aliran kerahiban, tarikat sufi, mu’tazilah dan sebagainya. Maka datangalah filsuf-filsuf Islam yang menguraikan akidah islam dengan jalan filsafat Yunani, menuruti pikiran Aflatun (Plato), Aristun (Aristoteles) dan lainya.
# Membuat lembaga pendidikan Islam yang dipimpin seorang alim didikan Freemasonry yang menafsirkan Alquran dan hadist dengan alam pikiran Freemasonry.
# Menhidupkan sunnah-sunnah jahiliah dengan alasan melestarikan adat istiadat nenek moyang.
# Menjadikan Islam supaya Tasyabbuh dengan Nasrani dan agama lain, diantaranya dengan memasukkan bentuk nyanyian gereja ke masjid, ulang tahun dan sebagainya
Program Kedua
Program kedua dinamakan “Shada” dalam istilah Freemasonry berarti membentuk agama baru dan agama tandingan di seluruh dunia.
# Salah satunya yaitu di India ketika Islam bangkit untuk kembali ke Alquran dan Hadist dan mengobarkan Jihad fisabilillah, pihak penjajah Inggris bekerja sama denganFreemasonry mendirikan gerakan anti Jihad. Antara lain yaitu dengan menggalakkan sufi dengan perantara ulama bayaran anggota Freemasonry . Ditunjukkanya seorang Freemason “ Mirza Ghulam Ahmad”, ia mendakwakan dirinya sebgai Nabi akhir zaman , Bhuda awatara, Krisna, dan semacamnya.
# Rabithah Alam islami yang bersidang di Makkah 14-18 Rabiul Awal1394 memutuskan bahwa Ahmadiyah itu bukan Islam dan berkaitan dengan Zionisme.
# Dan kasus-kasus “aliran sesat islam” yang beredar di indonesia seperti sholat dua bahasa dan lainya, kemungkian besar berkaitan dengan program Freemasonry.
Program Ketiga
Program ketiga dinamakan parokim, dalam istilah Freemasonry:
# Membuat gerakan yang bertentangan untuk satu tujuan Mengembangkan Freemasonry lokal dalam suatu negara dengan nama lokal, tetpi tiada lepas dari asas dan tujuan Freemasonry.
# Mendukung tori-teori bertentangan.
# Membangkitkan kufarat dan menyiarkan teori Sigmond Freud dan Charles Darwinsehingga antara antara Ilmu pengetahuan dan agama bersaing, kalah mengalahkan.
Program Keempat
Program keempat dinamakan Libarim, dalam istilah Freemasonry :
# Melenyapkan etika klasik yang mengekang pergaulan muda-mudi, termasuk melalui penyebaran kebebasan seksual.
# Mengahpus hukum yang melarang kawin antaragama untuk menurunkan generasi bebas agama.
# Pengambangan pendidikan seks di sekolah-sekolah
# Persamaan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal “kedudukan waris” dan “pakaian”.
# Mengembalakan pemuda-pemudi kedunia khayali, dunia musik, dan narkoba. Serta membuat bet satan (rumah setan) untuk menampung pemuda-pemudi kealamnya.
# Mengorganisir kaum lesbian, guy, lutherianserta pengakuan hak mereka dalam hukum.
Program Kelima
Program kelima dinamakan Babill, dalam istilah Freemasonry yakni memupuk asas kebangsaan setiap bangsa dan menjaga kemurnian bangsa Yahudi.
Program Keenam

Program Keenam ini dinamakan Onan dalam istilah Freemasonry:
# Mengekang pertumbuhan bangsa Goyim (orang selain Yahudi).
# Menyuburkan perempuan-perempuan Yhaudi menjadi peridi.
Program Ketujuh

Program ketujuh dinamakan protokol. Dalam istilah Freemasonry, protokol khusus untuk program bangsa Yhaudidalam Suhyuniah (zionisme) yang dimulai dengan pengantar protokol.

Isi protokol adalah tentang rencana Yahudi untuk menguasai dunia, diantaranya peghancuran ekonomi suatu negara, penghancuran moral suatu bangsa dan banyak lagi. Dengan program protokol bangsa Yahudi dapat menjadi penguasa ekonomi dunia, pengatur Politikdan penerangan dunia.
Program Kedelapan

Program kedelapan ini disebut Gorgah, dalam istilah Freemasonry :

# Untuk merusak para pemimpin negara, ulama dan partai, mereka harus dijerumuskan dalam pasar seks dengan seribu satu jalan. Pepatah Yahudi mengatakan”jadikanlah perempuan cantik untuk alat suatu permainan siasat.”
# Membuat jerat dan jala seks bagi seseorang yang terhormat. Jika namanya disiarkan sehingga kehormatanya jatuh.
# Menyebarkan agen Kasisah, yaitu intel Fremasonry untuk menghancurkan martabat lawan ditempat-tempoat maksiat.
# Mendirikan gedung perjudian terbesar dan modern.
# Melemahkan pasukan lawan dengan perempuan dan obat khusus.

Program Kesembilan

Program kesembilan dinamakan Plotisme yaitu:
# Mendidk alim ulama dalam Plotis yang pahamnya terapung ambang.
# Alim ulama plotis itu disebarkansebagai tenaga pengajar di sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga Islam.
# Alim ulama Plotis harus diangkat menjadi anggota kehormatan Freemasoonry.
Program Kesepuluh

Program kesepuluh ini dinamakan Qornun, dalam istilah Freemasonry :

# Orang-orang yang terpilih yang berbahaya bagi Freemasonry didukung agar menjadi kaya sehingga bergelimang harta, tetapi akhirnya di peras secara halus oleh suruhan Freeemasonry.
# Memberi dana pendidikan bagi pendidikan agama dalam hal berniaga, bertani, dan sebgainya sehingga mereka sibuk dalam keduniaan.
# Lawan-lawan Freemasonry agar terjerat riba dan bank Freeamsonry.
# Menghasut dan memberi jalan dengan berbagai cara agar para pejabat bank diluar bank Yahudi melakukan korupsi sehingga bank tersebut hancur dan kelak bank itu dibantu oleh bank Freemasonry dengan ikatan yang kuat. Bank itu akan bersiri kembalio dengan tujuh puluh lima persen modal Yahudi. Kemuidan pemimpin bank dan karyawan tersebut diberi ajaran Freemasonry dan menjadi anggotanya..
Sumber : http://forum.vivanews.com/showthread.php?t=28350

Rinding, Kesenian Yang Disembunyikan Zaman

A. Selayang Pandang

Sebagai masyarakat agraris yang penghidupannya mengandalkan bercocok tanam, budaya dan kesenian yang muncul di Gunungkidul pun tak bisa lepas dari sistem pertanian dan mata pencaharian mereka. Salah satu dari sekian banyak seni tradisi masyarakat Gunungkidul yang terpengaruh budaya agraris adalah Kesenian Rinding Gumbeng. Ditengah lajunya arus globalisasi, Kesenian Rinding Gumbeng tetap bertahan dengan kesederhanaannya.

Kesenian Rinding Gumbeng merupakan salah satu kesenian tradisional yang terdiri dari enam penabuh gumbeng, enam peniup rinding, dan tiga penyanyi perempuan yang biasa disebut dengan istilah penyekar. Rinding dan Gumbeng sendiri merupakan dua jenis alat musik yang terbuat dari bambu. Jika cara memainkan Rinding adalah ditiup, maka Gumbeng adalah alat musik yang ditabuh atau dipukul. Sementara itu, kostum yang dikenakan oleh para pemain Rinding Gumbeng hanyalah baju, dan celana warna hitam dengan ikat kepala dari kain batik. Untuk para penyekar, kostum yang dipakai adalah kebaya khas petani desa dengan kain lurik dan juga caping bambu.

Tidak ada data yang akurat mengenai, kapan kesenian ini mulai dimainkan. Hanya saja banyak warga mempercayai bahwa usia Kesenian rinding Gumbeng ini sudah sangat tua. Penggunaan bambu sebagai bahan utama pembuatan alat musik ditengarai bahwa kesenian ini muncul jauh-jauh hari sebelum masyarakat Gunungkidul mengenal logam dan masih mempercayai Dewi Sri sebagai Dewi Padi.

Pada mulanya, Rinding Gumbeng ini dimainkan seusai masyarakat merayakan panen pertama. Kala itu masyarakat mengarak hasil bumi terbaik sebagai persembahan untuk Dewi Sri dengan diiringi musik Rinding Gumbeng yang meriah. Selain sebagai ucapan syukur atas hasil panen yang telah diperoleh, masyarakat yang masih mempercayai sosok imajiner Dewi Sri sebagai dewi penjaga padi meyakini bahwa bunyi-bunyian yang dihasilkan oleh alat musik Rinding Gumbeng akan menyenangkan hati Dewi Sri. Ketika Dewi Sri terhibur dan bahagia, maka secara otomatis dia akan memberikan hasil panen yang lebih melimpah pada musim-musim berikutnya.

Tahun-tahun belakangan, Kesenian Rinding Gumbeng yang hanya ditemui di Desa Beji, Ngawen, Gunungkidul sudah mengalami transformasi. Rinding Gumbeng sudah jarang dimainkan dalam pesta panen masyarakat. Meski begitu, kesenian ini masih tetap lestari dan dapat dinikmati oleh masyarakat luas. Musik Rinding Gumbeng tidak lagi dimainkan dalam pesta panen melainkan dalan Upacara Nyadran Hutan Wonosadi. Selain itu, Rinding Gumbeng juga kerap ditampilkan dalam pentas budaya baik tingkat lokal maupun nasional.

B. Keistimewaan

Selain sebagai kesenian yang mampu menghibur masyarakat, Rinding Gumbeng juga mengandung kearifan sosial mengenai etos kerja rakyat Gunungkidul. Sederhana, ulet, dan dekat dengan alam, merupakan tiga hal yang ingin disampaikan melalui alat musik Rinding Gumbeng. Berbahan dasar bambu dan tidak neko-neko melambangkan kesederhanaan dan kedekatan dengan alam. Bahwa alam pun dapat digunakan untuk menciptakan nada-nada yang indah. Sedangkan ulet digambarkan dengan perlunya latihan khusus untuk mampu membunyikan Rinding. Meski terlihat sederhana, tidak semua orang mampu menghasilkan bunyi saat meniup rinding. Oleh karena itu diperlukan ketekunan dan keseriusan dalam berlatih.

Meski hanya terbuat dari bambu dengan bentuk sederhana, Rinding Gumbeng mampu menyajikan alunan musik yang khas, indah, dinamis, serta ekspresif. Rinding Gumbeng mampu mengiringi berbagai lagu yang dinyanyikan oleh para penyekar. Jika awalnya hanya untuk mengiringi lagu-lagu tradisional saja, saat ini sesuai dengan tuntutan jaman, banyak inovasi yang dilakukan supaya Kesenian Rinding Gumbeng mampu mengiringi aliran musik lainnya. Dengan penambahan berbagai alat ke dalam kelompok kesenian Rinding Gumbeng, maka saat ini Rinding Gumbeng bisa digunakan untuk mengiringi musik dangdut, keroncong, dolanan bocah, hingga campursari. Meski begitu, Rinding Gumbeng tetap mempertahankan karakter tradisionalnya.

Selain terdiri dari kelompok pemain Rinding dan Gumbeng serta penyekar, dalam acara festival atau nyadranan, terkadang pertunjukan Rinding Gumbeng akan diiringi penari. Selain itu, terkadang juga ada sosok wanita cantik yang melambangkan Dewi Sri, sang penjaga padi. Selain menampilkan pertunjukan yang menarik dan atraktif, biasanya para pemain Rinding Gumbeng tak akan segan untuk membagi ilmunya kepada pengunjung yang tertarik untuk mengetahui seluk beluk mengenai Rinding Gumbeng, atau mengajari mereka memainkan alat musik yang terbuat dari bambu tersebut.

C. Lokasi

Wisatawan yang tertarik untuk menyaksikan pertunjukan Rinding Gumbeng dapat berkunjung ke Hutan Wonosadi, Gunungkidul. Setiap tahunnya pada Upacara Nyadran, Rinding Gumbeng selalu menjadi salah satu kesenian rakyat yang dipertunjukkan. Selain itu, Anda dapat mengunjungi Dukuh Duren, Desa Beji, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul. Di tempat ini terdapat satu komunitas yang masih bertahan menjaga serta melestarikan kesenian Rinding Gumbeng.

D. Akses

Dukuh Duren terletak sekitar 35 kilometer arah Utara Wonosari. Akses menuju daerah ini sudah baik, jalan yang ada bisa dilalui oleh kendaraan roda dua ataupun roda empat. Bagi wisatawan yang tidak membawa kendaraan pribadi dapat memulai perjalanan dari Terminal Giwangan, Yogyakarta. Anda silahkan naik bus umum jurusan Jogja-Wonosari dan turun di Terminal Wonosari. Setelah itu, silahkan Anda berganti kendaraan dengan naik angkutan umum berwarna hijau yang melayani rute ke Kecamatan Ngawen. Selain menggunakan rute Jogja-Wonosari, wisatawan juga dapat mencapai tempat ini dari arah Klaten, Jawa Tengah.

Kearifan Lokal Suku Sunda

Pendekatan KEARIFAN LOKAL

Pengertian Kearifan Lokal dilihat dari kamus Inggris Indonesia, terdiri dari 2 kata yaitu kearifan (wisdom) dan lokal (local). Local berarti setempat dan wisdom sama dengan kebijaksanaan. Dengan kata lain  maka local wisdom dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan, nilai-nilai-nilai, pandangan-pandangan setempat (local)  yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya.

Pendekatan Kearifan lokal adalah penggunaan metoda-metoda yang berasal dari nilai-nilai kebijaksanaan masyarakat lokal (terutama dari nilai-nilai budaya Sunda dulu) dalam menangani masalah lingkungan di lingkungannya.

KEARIFAN LOKAL SUNDA

Nilai-nilai budaya Sunda tua diperoleh dari suku Baduy Dalam, Kampung Naga dan desa-desa adat lainnya di daerah Sunda, yang diturunkan secara lisan dari orang-orang tua ke generasi dibawahnya, beserta prasasti-prasasti yang masih ada. Menurut orang-orang tua mereka diberi tahu bahwa ilmu mengenai tata ruang wilayah  dibuat pada abad 8 dan sudah dituliskan, pada abad ke 14, kitab-kitab tersebut dibawa oleh penjajah (Belanda dan Portugis) untuk kepentingan mereka. Kepentingan mereka adalah kepentingan ekonomi dengan merubah tatanan ruang di Indonesia, seperti halnya perkebunan teh dll.

Bahasa SUNDA berasal dari SUN DA HA, yang mengandung arti SUN adalah Diri, DA adalah Alam dan HA adalah Tuhan. Artinya kearifan lokal dapat digambarkan dengan mengidentifikasi tiga ranah (domain) tempat kearifan lokal itu berlaku. Ranah pertama adalah DIRI, yaitu hubungan antara manusia dengan manusia; kedua, ALAM, yaitu hubungan manusia dengan alam; dan ketiga TUHAN, hubungan manusia dengan Tuhan atau Sang Pencipta.

SUN, yang merupakan Diri, terwujud dalam hubungan pribadi dengan pribadi, pribadi dengan komunitas. Beberapa nilai-nilai kearifan lokal:

–    Hade ku omong, goreng ku omong (segala hal sebaiknya dibicarakan) keterbukaan dalam hubungan pribadi sebaiknya dibicarakan.

–    Undur katingali punduk datang katingali tarang ( pergi tampak tengkuk datang tampak pelipis) perilaku kita sebagai anggota komunitas harus diketahui oleh anggota komunitas lain.

–    Someah hade ka semah (Ramah dan baik terhadap tamu)

–    Mun aya angin bula bali ulah muntang kana kiara, muntang mah ka sadagori ( kalau ada angin putting beliung, jangan berpegang kepada pohon beringin tetapi pada rumput sadagori) rumput sadagori adalah tanaman kecil atau rumput dengan akar yang sangat kuat, yang diungkapkan sebagai rakyat kecil.

 

DA, yang merupakan hubungan manusia dengan alam dengan jelas diperlihatkan oleh komunitas adat Sunda, misalnya komunitas Baduy, Pancer Pangawinan, Kampung Naga, dan sebagainya. Dasar dalam melakukan cinta terhadap alam diungkap dalam ungkapan Suci Ing Pamrih Rancage Gawe . Antara manusia dan alam adalah bagian yang menyatu tidak terpisah. Masyarakat adat beranggapan bahwa mereka hidup “bersama” alam, dan bukan “di” alam seperti sikap kebanyakan anggota masyarakat modern. Oleh karena itu, masyarakat tradisional memiliki solidaritas yang lebih kuat dengan alam. Kegiatan terhadap alam terlihat pada ungkapan “Leuweung ruksak, cai beak, ra’yat balangsak ” (Hutan rusak, air habis, rakyat sengsara), atau “Leuweung kaian, gawir awian, legok balongan ” (Hutan tanami kayu, tebing tanami bambu, palung jadikan kolam).

HA, yang merupakan hubungan manusia dengan Tuhan tidak semata-mata diungkapkan dalam perilaku komunitas-komunitas itu, melainkan juga dalam ungkapan, seperti yang kita baca dalam buku Sang Hiang Siksa Kanda Ng Karesian (Terbit abad XVI), yaitu Tapa di nagara (Bertapa di tengah-tengah kehidupan sehari-hari). Bagi anggota komunitas tradisional, hidup itu sendiri adalah bertapa (ibadah). Hidup adalah menyucikan diri agar layak berhadapan dengan Tuhan Yang Maha suci.

Penggabungan terhadap ranah-ranah tersebut adalah Menyakini bentuk ibadah yang tertinggi dan rasa syukurnya kepada Sang pencipta adalah berupa : kebersamaan untuk menjaga alam, dan memelihara pohon.

ada istilah Sunda: Silih Asih, Silih Asah dan Silih Asuh , yang artinya adalah dalam melakukan pemulihan harus dengan rasa cinta kasih terhada alam, yang kemudian bagaimana kita mengasah kepekaan alam dengan terus belajar kepada alam sehingga kita bisa menentukan bagaimana kita hidup di alam. Apabila kita bisa melakukan pepatah Sunda ini hasilnya adalah Silih Wawangi , artinya bahwa hasilnya akan memberikan manfaat yang optimal terhadap masyarakat, tidak hanya kepada diri pribadi tetapi juga terhadap masyarakat banyak dan alam itu sendiri

Awal mula Negara Islam Indonesia

Negara adalah bentuk dari kesatuan antara wilayah, pemerintahan dan sebuah masyarakat yang berada dalam satu tujuan yang bertujuan mensejahterakan mereka, Beberapa ahli mendefinisikan berbeda tentang negara. Roger H. Soltau menuliskan: “Negara adalah alat (agency) atau wewenang (authority) yang mengatur atau mengendalikan persoalan-persoalan bersama, atas nama masyarakat (The state is an agency or authority managing or controling these (common) affairs on behalf of and in the name of the community). Harold J. Laski mengatakan: “Negara adalah suatu masyarakat yang diintegrasikan karena mempunyai wewenang yang bersifat memaksa dan yang secara sah lebih agung dari pada individu atau kelompok yang merupakan bagian dari masyarakat itu (The state is a society which is integrated by possessing a coercive authority legally supreme over any individual or group which is part of the society).

Max Weber berujar: “Negara adalah suatu masyarakat yang mempunyai monopoli dalam penggunaan kekerasan fisik secara sah dalam suatu wilayah (The state is a human society that (succesfully) claims the monopoly of the legitimate use of physical force within a given territory). Robert M. MacIver menyatakan: “Negara adalah asosiasi yang menyelenggarakan penertiban di dalam suatu masyarakat dalam suatu wilayah dengan berdasarkan sistem hukum yang diselenggarakan oleh suatu yang untuk maksud tersebut diberi kekuasaan memaksa (The state is an association which, acting through law as promulgated by a government endowed to this end with coercive power, maintains within a community territorially demarcated the external conditions of order).

Abraham Amos lebih menegaskan arti sebuah negara menjadi dua, negara dalam arti objektif dan negara dalam arti subjektif. Negara dalam arti objektif berarti segala sesuatu yang menyangkut ruang lingkup kedaulatan suatu kelompok komunitas masyarakat, dimana didalamnya terdapat strukutur kehidupan sosial atas kehendak organ masyarakat pada suatu wilayah tertentu; dengan tujuan menjalankan segala bentuk aktivitas hidupnya. Sedangkan negara dalam arti subjektif diartikan dengan adanya sekelompok komunitas manusia yang menghendaki suatu bentuk teritorial kedaulatan, yang kemudian dibentuk semacam konsensus atau kontrak sosial. Kontrak sosial itu tak lain ialah mufakat bersama dengan tujuan untuk membentuk wilayah kedaulatan sesuai kehendak komunitas dan memiliki seorang pimpinan komunitas sosial.

Di Negara yang kita tempati ini begitu banyak permasalahan yang sudah terlalu banyak yang kita alami dari mulai kemiskinan, konflik hingga pemberontakan yang ingin mengganti NKRI menjadi Negara yang mereka inginkan. Sebagai permasalahan yang kita hadapi kini yaitu pemberontakan yang pada saat dulu sudah dapat diatasi dan mulai muncul kembali adalah NII (Negara Islam Indonesia).

Negara Islam Indonesia (disingkat NII; juga dikenal dengan nama Darul Islam atau DI) yang artinya adalah “Rumah Islam” adalah gerakan politik yang diproklamasikan pada 7 Agustus 1949 (ditulis sebagai 12 Syawal 1368 dalam kalender Hijriyah) oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di Desa Cisampah, Kecamatan Ciawiligar, Kawedanan Cisayong, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Gerakan ini bertujuan menjadikan Republik Indonesia yang saat itu baru saja diproklamasikan kemerdekaannya dan ada di masa perang dengan tentara Kerajaan Belanda sebagai negara teokrasi dengan agama Islam sebagai dasar negara. Dalam proklamasinya bahwa “Hukum yang berlaku dalam Negara Islam Indonesia adalah Hukum Islam”, lebih jelas lagi dalam undang-undangnya dinyatakan bahwa “Negara berdasarkan Islam” dan “Hukum yang tertinggi adalah Al Quran dan Hadits”. Proklamasi Negara Islam Indonesia dengan tegas menyatakan kewajiban negara untuk membuat undang-undang yang berlandaskan syari’at Islam, dan penolakan yang keras terhadap ideologi selain Alqur’an dan Hadits Shahih, yang mereka sebut dengan “hukum kafir”, sesuai dalam Qur’aan Surah 5. Al-Maidah, ayat 50.

Awal Mula Terbentuknya Negara Islam Indonesia

Negara Islam Indonesia telah diproklamirkan oleh As-Syahid Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo pada tanggal 7 Agustus 1949. Dimana bunyi proklamasi Negara Islam Indonesia adalah sebagai berikut :

PROKLAMASI

Berdirinya

Negara Islam Indonesia

Bismillahirrahmanirrahim

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah, Maha Pengasih

Ashhadu alla ilaha illallah, wa ashhadu anna Muhammadarrasulullah

Kami, Ummat Islam Bangsa Indonesia

MENYATAKAN :

BERDIRINYA

NEGARA ISLAM INDONESIA

Maka Hukum yang berlaku atas Negara Islam Indonesia itu, ialah : HUKUM ISLAM.

Allahu Akbar ! Allahu Akbar ! Allahu Akbar !

Atas nama Ummat Islam Bangsa Indonesia

IMAM NEGARA ISLAM INDONESIA

 

ttd

S.M. KARTOSOEWIRJO

Madinah – Indonesia,

12 Syawal 1368 / 7 Agustus 1949.

Tanggal 7 agustus 1949 adalah bertepatan dengan Bung Hatta pergi ke Belanda untuk mengadakan perundingan Meja Bundar, yang berakhir dengan kekecewaan. Dimana hasil perundingan tersebut adalah Irian Barat tidak dimasukkan kedalam penyerahan kedaulatan Indonesia, lapangan ekonomi masih dipegang oleh kapitalis barat.

Negara Islam Indonesia diproklamirkan di daerah yang dikuasai oleh Tentara Belanda, yaitu daerah Jawa Barat yang ditinggalkan oleh TNI (Tentara Nasional Indonesia) ke Jogya. Sebab daerah de-facto R.I. pada saat itu hanya terdiri dari Yogyakarta dan kurang lebih 7 Kabupaten saja ( menurut fakta-fakta perundingan/kompromis dengan Kerajaan Belanda; perjanjian Linggarjati tahun 1947 hasilnya de-facto R.I. tinggal pulau Jawa dan Madura, sedang perjanjian Renville pada tahun 1948, de-facto R.I. adalah hanya terdiri dari Yogyakarta). Seluruh kepulauan Indonesia termasuk Jawa Barat kesemuanya masih dikuasai oleh Kerajaan Belanda. Jadi tidaklah benar kalau ada yang mengatakan bahwa Negara Islam Indonesia didirikan dan diproklamirkan didalam negara Republik Indonesia. Negara Islam Indonesia didirikan di daerah yang masih dikuasai oleh Kerajaan Belanda.

Negara Islam Indonesia dengan organisasinya Darul Islam dan tentaranya yang dikenal dengan nama Tentara Islam Indonesia dihantam habis-habisan oleh Regim Soekarno yang didukung oleh partai komunis Indonesia(PKI). Sedangkan Masyumi (Majelis syura muslimin Indonesia) tidak ikut menghantam, hanya tidak mendukung, walaupun organisasi Darul Islam yang pada mulanya bernama Majlis Islam adalah organisasi dibawah Masyumi yang kemudian memisahkan diri. Seorang tokoh besar dari Masyumi almarhum M Isa Anshary pada tahun 1951 menyatakan bahwa “Tidak ada seorang muslimpun, bangsa apa dan dimana juga dia berada yang tidak bercita-cita Darul Islam. Hanya orang yang sudah bejad moral, iman dan Islam-nya, yang tidak menyetujui berdirinya Negara Islam Indonesia. Hanya jalan dan cara memperjuangkan idiologi itu terdapat persimpangan dan perbedaan. Jalan bersimpang jauh. Yang satu berjuang dalam batas-batas hukum, secara legal dan parlementer, itulah Masyumi. Yang lain berjuang dengan alat senjata, mendirikan negara dalam negara, itulah Darul Islam” (majalah Hikmah, 1951).

Ketika Masyumi memegang pemerintahan, M Natsir mengirimkan surat kepada SM Kartosoewirjo untuk mengajak beliau dan kawan-kawan yang ada di gunung untuk kembali berjuang dalam batas-batas hukum negara yang ada. Namun M Natsir mendapat jawaban dari SM Kartosoewirjo “Barangkali saudara belum menerima proklamasi kami”(majalah Hikmah, 1951).

Setelah Imam Negara Islam Indonesia S.M. Kartosoewirjo tertangkap dan dijatuhi hukuman mati pada tahun 1962 rezim Soekarno dengan dibantu oleh PKI yang diteruskan oleh rezim Soeharto dengan ABRI-nya telah membungkam Negara Islam Indonesia sampai sekarang dengan pola yang sama. Pola tersebut adalah dengan cara menugaskan bawahannya untuk melakukan pengrusakan, setelah melakukan pengrusakan bawahan tersebut “bernyanyi” bahwa dia adalah anggota kelompok Islam tertentu. Atau melakukan pengrusakan dengan menggunakan atribut Islam. Menurut salah seorang kapten yang kini masih hidup, dan mungkin saksi hidup yang lainnya pun masih banyak, bahwa ada perbedaan antara DI pengrusak dan DI Kartosuwiryo yakni atribut yang dipergunakan oleh DI pengrusak (buatan Soekarno) berwarna merah sedangkan DI Kartosuwiryo adalah hijau. Sebenarnya Negara Islam Indonesia masih ada dan tetap ada, walaupun sebagian anggota-anggota Darul Islam sudah pada meninggal, namun ide Negara Islam Indonesia masih tetap bersinar di muka bumi Indonesia.

Hubungan NII dan PKI

Jika pada masa revolusi dulu amat sangat terang pertikaian antar bentuk negara indonesia, dari yang mengusulkan kembali menjadi negara Monarkhi (kerajaan) hingga negara komunis.tak terkecuali bentuk negara islam.

Para founding father yang merumuskan bentuk negara RI telah sepakat akan bentuk NKRI, tp dalamnya sendiri masih meragukan akan hal tersebut.Kekuatan yang memaksakan akan bentuk Komunis berusaha mengkudeta dengan gerakan madiun 1948 dan GESTAPU 1965.Namun semua sangat paham bahwa kekuatan yang tidak mampu disusupi oleh PKI adalah Tentara di bawah kepemimpinan Kartosuwiryo dengan tentaranya TII (Tentara Islam Indonesia) dan dengan bentuk negaranya DI (Darul islam).Hampir semua kesatuan TNI kala itu berhasil disusupi oleh komunis.Kecuali Tentara dibawah komando Kartosuwiryo.seleksi yang ketat baik sisi syari’at maupun tauhid sangat diutamakan oleh unsur-unsur pimpinan.Hafalan surat-surat pendek minimal diterapkan, yasin dan waqiah wajib hafal dan hal-hal lain yang tidak mungkin diketahui oleh orang-orang komunis.

Tidak salah jika R.M Kartosuwiryo bertekad mempertahankan haknya dengan bentuk NIInya,karena beliau memegang janji dari presiden Soekarno kala itu, yakni;

  1. Jika berhasil mengusir belanda dr bumi sunda maka sebagian tanah sunda akan menjadi milik NII.
  2. Jika berhasil menghancurkan PKI maka akan memberi kekuasaan kepada R.M Kartosuwiryo dengan NIInya.

Namun semua itu tidak terealisasi, bahkan setelah orde baru , NII dianggap musuh negara. Seiring dengan wafatnya R.M Kartosuwiryo NII bergerak dibawah tanah, namun oleh penerus-penerusnya seolah dianggap sebagai gerakan yang masih dibawah tanah.tidak berani muncul terang-terangan seperti halnya komunis yang secara tersamar bahkan sudah mendudukkan salah satu kader terbaiknya di DPR RI.belakangan diketahui bahwa NII hanya isapan jempol yang merekrut anggota-anggota untuk kepentingan segelintir pemimpinnya. Dan informasi dari para jebolan NII bahwa pemimpin-pemimpin NII sangan dangkal sekali ilmu agamanya dan bahkan tidak memahami syari’at islam walaupun seujung kuku.NII ada karena PKI ada, PKI bubar maka NII juga bubar.kini PKI kembali akan mengeksiskan diri, maka NII juga bersiap mengeksiskan diri.

Proses Penipuan dan Perekrutan NII

Meski kerap menggunakan cara-cara baru seperti menggunakan jejaring sosial Facebook dan Twitter untuk mendekati calon korbannya. Namun modus yang digunakan untuk perekrutan/doktrinasi dariu tahun ke tahun tetap sama :

1. Dilakukan oleh seorang anggota NII dibantu temannya dengan cara diskusi. Setelah 2-3x diskusi/pertemuan si korban akan disiapkan untuk melakukan hijrah.

2. Sebelum berhijrah korban diharuskan memberikan sedekah. Sedekah ini di doktrin untuk membersihkan dosanya. Nilainya bervariasi mulai Rp 100rb sampai Rp 10 juta. tergantung tingkat ekonomi korban.

3. Setelah siap berhijrah, korban dijemput ditempat yang sudah ditentukan, seperti di mall, di halte, toko buku, dsb. Kemudian berangkat dengan mata tertutup.

4. Saat sampai di tempat transit, korban di bina dan di doktrin. Kemudian dibawa dan ketempat lain dan di doktrin secara marathon.

5. Akibat doktrin-doktrin tersebut ketika sampai di tempat tujuan, sang korban meminta agar diterima menjadi warga NII.

6. Korbanpun diterima menjadi anggota dan di baiat (di sumpah) dengan 9 poin.

7. Setelah di baiat korban akan berganti nama. Sampai disini prekrutan selesai.

8 . Korban dikembalikan ketempat semula saat pertama kali dilakukan penjemputan. Namun tidak berhenti sampai disini karena pembinaan masih terus berlangsung.

Pengamat intelijen Wawan H Purwanto juga mencatat pola penjangkauan NII yang sangat rapi. Penjangkauan dilakukan NII seperti multilevel marketing (MLM), yaitu pemasaran lewat lisan. Setiap dua orang kader NII diharapkan bisa menjangkau 1 orang baru. Mereka juga menetapkan target penjangkauan 7 orang per minggu dan penghimpunan dana Rp 6-7 jt per bulan.

Dengan mereka beranggapan orang yang diluar NII adalah kafir, mereka menghalalkan mencuri, merampok dan berbuat kriminal lainnya selama dilakukan bukan sesamanya. Prinsip mereka itu, semua harta milik Allah yang harus dimiliki oleh kelompoknya saja. Dari sinilah mereka menghalalkan mencuri dan merampok, [berbagai sumber/www.hidayatullah.com]. Modus yang sering mereka lakukan adalah dengan metode pendekatan, hipnotis, bicara dari hati ke hati, dibawa ke tempat sesuatu, dibaiat, diajak untuk memahami amanu (iman), hijrah dan jihad. Terang saja orang yang tidak kuat imannya dapat dengan mudah terbujuk.

Penanggulangan NII

Sebagai orang awam, sempat berrfikir apakah memang benar itu akan dapat sejalan dengan ideologi bangsa kita? Kembali pada zaman dulu, sejarah mengatakan betapa besar perjuangan yang harus ditempuh para pendahulu kita untuk membebaskan diri dari penjajahan, agar dapat menjadi bangsa seperti ini, bangsa yang besar dalan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Seiring polemik bermunculan, terfikirkan apakah ini salah satu cara penjajahan secara religious. Walaupun negara kita masih saja berkutat dengan masalah korupsi, teror bom, deskriminasi rakyat kecil, pendidikan yang belum merata, kesehatan yang belum maksimal, banyaknya angka pengangguran, gelandangan, bahkan jumlah warga misikin yang masih banyak, tetapi dilihat dari sisi lain kita selayaknya dapat bangga pada bangsa ini, bangsa yang mampu bersatu dengan banyaknya agama, adat, suku, bahasa dan budaya, suatu kekuatan besar dimana kita dapat bersatu dari banyaknya perbedaan, bahkan menjadikan perbedaan sebagai kelengkapan dalam pengisi tatanan bangsa ini.

Walau terkadang masih saja sedikit bagian dari perbedaan yang ada selalu menimbulkan polemik baru, tapi setidaknya kita hidup dalam bangsa yang mempunyai hukun dan landasan yang jelas. Untuk itu jangan sampai bangsa kita kembali terpecah belah, apalagi dengan modus melalui ajaran yang mengatas namakan agama islam, mereka menjadikan kita saling berpecah belah dan dengan gampangnya mereka mengambil kesempatan itu untuk saling mengadu domba.

 

Daftar Pustaka

Nurtjahjo, Hendra. 2005. Pengembangan Teori Bernegara dan Suplemen. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Soemardjan, Selo (ed). 2000. Menuju Tata Indonesia Baru. Jakarta: Gramedia

http://sosbud.kompasiana.com/2011/05/02/nii-versus-pki/

http://www.ingateros.com/2011/04/hati-hati-ancaman-penipuan-berkedok-aliran-nii.html

http://politik.kompasiana.com/2011/05/09/sedikit-tentang-negara-islam-indonesianii-orang-awam-bingung/

http://indonesia.faithfreedom.org/forum/kebangkitan-nii-t25341/

http://darul_islam.tripod.com/nii-prev.html