Pengenalan Terhadap Antropologi Kesehatan

Pengenalan : Bagian Pembelajaran Antropologi kesehatan

Antropologi kesehatan itu bagaimana cara individu yang berasal dari kebudayaan dan kelompok sosial yang berbeda menjelaskan tentang sehat-sakit, tipe-tipe mereka mengadakan pengobatan yang mereka percayai, dan bagaimana cara menanggulanginya ketika mereka sakit kembali. Ini juga merupakan studi tentang kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan keadaan biologis dalam organisme manusia, dalam hal kesehatan dan penyakit.

Untuk menempatkan subjek dalam perspektif tersebut, penting untuk diketahui tentang sesuatu disiplin dari antropologi itu sendiri, bagian dari antropologi sendiri merupakan suatu studi komparatif yang baru. Antropologi dari Yunani, berarti studi tentang manusia, sering juga disebu sebagai bidang ilmu kemanusiaan yang sangat ilmiah dan ilmu pengetahuan yang manusiawi. Ilmu ini merupakan ilmu yang bersifat holistik yang berhubungan dengan manusia, termasuk asal-usul, pembangunan, organisasi politik dan sosial, agama, bahasa, seni dan artefak.

Antropologi merupakan studi lapangan yang mempunyai beberapa cabang. Antropologi fisik sering dikenal dengan “biologi manusia”- ini mempelajari tentang evolusi dari manusia dan itu berkonsentrasi pada penjelasan perbedaan di populasi manusia di masa lalu. Dalam penyelidikan dari prasejarah manusia itu menggunakan teknik Arkeologi, Paleontologi, Genetika, dan Serologi, serta studi tentang perilaku primata dan Ekologi.

Di Inggris sendiri Antropologi yang dominan disana adalah Antropologi Sosial dan segala yang mencakup kehidupan sosial manusia. Dalam ilmu kajiannya, budaya dipandang sebagai cara manusia mengorganisir dan melegitimasi masyarakatnya dan menambahkan aspek dasar seperti sosial, politik dan organisasi politik. Berbeda dengan di Inggris, Amerika Serikat memfokuskan Antropologinya terhadap sistem simbol, ide, dan makna yang meliputi kebudayaan tersebut.

Belakangan ini Antropologi mulai mengkaji lebih spesifik lagi tentang masyarakat tradisional. Dengan menggunakan teknik etnografi, studi komparatif , pendekatan sosiologi dan psikologi juga. Antropologi Kesehatan merupakan bagian yang dikaji lebih lanjut. Para peneliti Antropologi mempelajari tentang spectrum sosio-kultural yang menunjuk pada kepercayaan masyarakat dan praktek yang berkaitan dengan sehat-sakit. Kepercayaan ini mengarah terhadap sudut pandang kemalangan (termasuk kecelakaan, konflik interpersonal, bencana alam, gagal panen, dirampok atau kehilangan). Di sebagian masyarakat juga meyakini bahwa ada kekuatan supranatural yang bisa melakukan hal-hal yang merugikan bagi masyarakat atau individu tersebut. Kekuatan supranatural tersebut biasanya di dominasi oleh penyihir, kepercayaan-kepercayaan mengenai kutukan dewa-dewa dan kepercayaan melanggar norma dan adat yang menimbulkan akibat buruk. Pengertian tentang sehat-sakit dari sebuah masyarakat seluruhnya tergantung dari sebuah sistem kepercayaan yang berkembang. Sistem terkecil yang mengajarkan kepercayaan tersebut biasanya dari keluarga dan mulai merambah ke masyarakat. Sehingga interpretasi Antropologi harus mencapai dan menjelaskan tentang kepercayaan tersebut, dimana timbul ketakutan akan sakit-penyakit yang bisa ditimbulkan oleh tindakan tersebut.

Antropologi juga bukan satu-satunya ilmu yang berperan dalam hal ini tapi juga ilmu-ilmu lain seperti Mikrobiologi, Biokimia, Genetika, Parasitologi, Patologi, Nutrisi, dan Epidemiologi. Antropologi kesehatan mencoba menyelesaikan permasalahan kesehatan masyarakat dengan mengklasifikasikan penyebab dan sebab yang ditimbulkan, tapi tidak hanya Antropologi saja, Biologi kebudayaan juga diikutsertakan untuk mengetahui faktor alam yang mengakibatkan permasalahan kesehatan tersebut.

Advertisements

Antropologi Kesehatan, Perspektif “sakit” Dokter dan Pasien

‘Penyakit’ – Perspektif Dokter

Seperti yang sudah dijelaskan, pengetahuan modern mengenai kesehatan menjadi beberapa bagian, seperti nilai-nilai kesehatan, teori tentang penyakit, aturan tentang kelakuan-perlakuan, dan pengaturan hierarki spesialisasi kesehatan. Profesi kesehatan ini seperti proses pengobatan “sub-kultur” dengan bagian dunia yang mereka lihat. Premis dasar dari dari perspektif kesehatan bias dijelaskan sebagai berikut:

  1. Ilmu pengetahuan rasional
  2. Penekanan terhadap objek, pengukuran yang numeric
  3. Penekanan terhadap data yang psiko-kimia
  4. Dualisme Perasaan-tubuh
  5. Entitas “penyakit”

Obat-obatan, sebagai pengetahuan barat pada umumnya diketahui sebagai dasar dari pengetahuan yang rasional untuk sebuah penyakit. Semua asumsi dan hipotesis harus sudah teruji dan diverifikasi, obejektivitas, dan terkontrol. Sehingga mulai dari diagnosis hingga cara pengobatan yang diberikan oleh dokter seluruhnya diberikan ketika pemeriksaan secara kedokteran yang identik dengan keberadaan hukum-hukum dan aturan-aturan yang sudah ditetapkan oleh ilmu kedokteran. Ketika sudah dilakukan  dari keseluruhan diagnosis baru dari hasil pemeriksaan tersebut ditetapkanlah cara-cara penyembuhan secara ilmu kedokteran. Sehingga segala yang ditentukan oleh dokter tersebut berdasarkan “model konseptual” yang sudah baku dan terukur untuk penyakit. Dari model tersebut menunjukan bahwa ilmu kesehatan barat sangat bergantung terhadap berjalannya sistem organ tubuh dengan baik atau dengan kata lain “sesuatu yang nyata”, mereka tidak mengacu pada aspek psikologi dan sosiokultural dari pasien tersebut.

Ilmu pengetahuan Barat berbeda dengan ilmu pengobatan tradisional yang mengutamakan terhadap komunikasi yang lebih banyak terhadap pasien, dalam percakapan yang panjang lebar antara penyembuh dan pasien pun akan mencapai dimana penyembuh dapat memahami kondisi psikologis dan sosiokultural dari pasien tersebut, sehingga penyembuh dalam tradisonal lebih mengutamakan “perasaan” dari pasien tersebut. Mulai dari sejarah penyakit tersebut hingga tanda-tanda antisipasi penyakit yang sudah diketahui oleh pasien itu sendiri. Sehingga dalam pengobatannya sendiri Penyembuh lebih mengacu terhadap kenyamanan pasien, hal tersebut itu juga yang membuat orang-orang yang tidak puas akan pengobatan modern yang tidak memperhatikan kondisi psikis dari pasien.

Konsep medis mengenai sehat-sakit sendiri berdasarkan obyek pasien yang mengalami perubahan kondisi psikis dari struktur tubuh berdasarkan pengukuran psikologis yang dianggap “normal”. Perubahan “abnormal”, Atau “penyakit”, sering dilihat “entitas”, dengan personalitas dari pasien tersebut. Seperti pemikiran Fabrega dan Silver, asumsi dan perspektif mengenai  suatu “penyakit” ini akan sama dalam budaya dan masyarakat manapun, akan tetapi itu tidak tidak pengaruhi oleh sosial dan dimensi psikologi sehat-sakit dari pasien dan lingkungan sekitar.

“Sakit” – Perspektif Pasien

Cassel menggunakan kata “Sakit” ketika pasien merasakan sesuatu dan dan pergi ke dokter, ketika sudah berobat dan divonis telah sembuh menurut dokter, pasien tetap merasakan “sakit” tapi sebenarnya secara diagnosis dokter pasien tersebut telah sembuh. Hal ini disebabkan oleh pengaruh dan persepsi yang dia dapat dari lingkungan tempat pasien tersebut berada, juga tergantung pasien menanggapi pengaruh-pengaruh tersebut.

Perspektif pasien menyakit “sakit” merupakan bagian pemikiran konseptual dari kesatuan pikiran-pikiran yang lebih luas untuk menjelaskan hal-hal yang tidak biasa tersebut. Semua hal ini sering dikaitkan oleh sesuatu yang tidak rasional menurut nalar manusia, mulai dari ilmu penyihir hingga kutukan dewa yang disebabkan oleh pelanggaran moral yang fatal. Sehingga untuk menanggulangi hal-hal itu pasien biasanya melakukan doa-doa atau penyesalan terhadap apa yang dilakukannya di masa lalu. Itu semua menyangkut psikologis, sosial dan dimensi moral yang berkaitan dengan kesulitan-kesulitan kebudayaan. Hal tersebut cukup luas untuk diterjemahkan, konsep “sakit” terhadap pasien hanya dapat dijelaskan oleh pasien itu sendiri, tergantung bagaimana pasien menanggapi dan menginterpretasi “sakit” yang dia derita.

Kearifan Lokal Suku Sunda

Pendekatan KEARIFAN LOKAL

Pengertian Kearifan Lokal dilihat dari kamus Inggris Indonesia, terdiri dari 2 kata yaitu kearifan (wisdom) dan lokal (local). Local berarti setempat dan wisdom sama dengan kebijaksanaan. Dengan kata lain  maka local wisdom dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan, nilai-nilai-nilai, pandangan-pandangan setempat (local)  yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya.

Pendekatan Kearifan lokal adalah penggunaan metoda-metoda yang berasal dari nilai-nilai kebijaksanaan masyarakat lokal (terutama dari nilai-nilai budaya Sunda dulu) dalam menangani masalah lingkungan di lingkungannya.

KEARIFAN LOKAL SUNDA

Nilai-nilai budaya Sunda tua diperoleh dari suku Baduy Dalam, Kampung Naga dan desa-desa adat lainnya di daerah Sunda, yang diturunkan secara lisan dari orang-orang tua ke generasi dibawahnya, beserta prasasti-prasasti yang masih ada. Menurut orang-orang tua mereka diberi tahu bahwa ilmu mengenai tata ruang wilayah  dibuat pada abad 8 dan sudah dituliskan, pada abad ke 14, kitab-kitab tersebut dibawa oleh penjajah (Belanda dan Portugis) untuk kepentingan mereka. Kepentingan mereka adalah kepentingan ekonomi dengan merubah tatanan ruang di Indonesia, seperti halnya perkebunan teh dll.

Bahasa SUNDA berasal dari SUN DA HA, yang mengandung arti SUN adalah Diri, DA adalah Alam dan HA adalah Tuhan. Artinya kearifan lokal dapat digambarkan dengan mengidentifikasi tiga ranah (domain) tempat kearifan lokal itu berlaku. Ranah pertama adalah DIRI, yaitu hubungan antara manusia dengan manusia; kedua, ALAM, yaitu hubungan manusia dengan alam; dan ketiga TUHAN, hubungan manusia dengan Tuhan atau Sang Pencipta.

SUN, yang merupakan Diri, terwujud dalam hubungan pribadi dengan pribadi, pribadi dengan komunitas. Beberapa nilai-nilai kearifan lokal:

–    Hade ku omong, goreng ku omong (segala hal sebaiknya dibicarakan) keterbukaan dalam hubungan pribadi sebaiknya dibicarakan.

–    Undur katingali punduk datang katingali tarang ( pergi tampak tengkuk datang tampak pelipis) perilaku kita sebagai anggota komunitas harus diketahui oleh anggota komunitas lain.

–    Someah hade ka semah (Ramah dan baik terhadap tamu)

–    Mun aya angin bula bali ulah muntang kana kiara, muntang mah ka sadagori ( kalau ada angin putting beliung, jangan berpegang kepada pohon beringin tetapi pada rumput sadagori) rumput sadagori adalah tanaman kecil atau rumput dengan akar yang sangat kuat, yang diungkapkan sebagai rakyat kecil.

 

DA, yang merupakan hubungan manusia dengan alam dengan jelas diperlihatkan oleh komunitas adat Sunda, misalnya komunitas Baduy, Pancer Pangawinan, Kampung Naga, dan sebagainya. Dasar dalam melakukan cinta terhadap alam diungkap dalam ungkapan Suci Ing Pamrih Rancage Gawe . Antara manusia dan alam adalah bagian yang menyatu tidak terpisah. Masyarakat adat beranggapan bahwa mereka hidup “bersama” alam, dan bukan “di” alam seperti sikap kebanyakan anggota masyarakat modern. Oleh karena itu, masyarakat tradisional memiliki solidaritas yang lebih kuat dengan alam. Kegiatan terhadap alam terlihat pada ungkapan “Leuweung ruksak, cai beak, ra’yat balangsak ” (Hutan rusak, air habis, rakyat sengsara), atau “Leuweung kaian, gawir awian, legok balongan ” (Hutan tanami kayu, tebing tanami bambu, palung jadikan kolam).

HA, yang merupakan hubungan manusia dengan Tuhan tidak semata-mata diungkapkan dalam perilaku komunitas-komunitas itu, melainkan juga dalam ungkapan, seperti yang kita baca dalam buku Sang Hiang Siksa Kanda Ng Karesian (Terbit abad XVI), yaitu Tapa di nagara (Bertapa di tengah-tengah kehidupan sehari-hari). Bagi anggota komunitas tradisional, hidup itu sendiri adalah bertapa (ibadah). Hidup adalah menyucikan diri agar layak berhadapan dengan Tuhan Yang Maha suci.

Penggabungan terhadap ranah-ranah tersebut adalah Menyakini bentuk ibadah yang tertinggi dan rasa syukurnya kepada Sang pencipta adalah berupa : kebersamaan untuk menjaga alam, dan memelihara pohon.

ada istilah Sunda: Silih Asih, Silih Asah dan Silih Asuh , yang artinya adalah dalam melakukan pemulihan harus dengan rasa cinta kasih terhada alam, yang kemudian bagaimana kita mengasah kepekaan alam dengan terus belajar kepada alam sehingga kita bisa menentukan bagaimana kita hidup di alam. Apabila kita bisa melakukan pepatah Sunda ini hasilnya adalah Silih Wawangi , artinya bahwa hasilnya akan memberikan manfaat yang optimal terhadap masyarakat, tidak hanya kepada diri pribadi tetapi juga terhadap masyarakat banyak dan alam itu sendiri

Parantropologi, Dinamika dan ideologi

Antropologi, ketika semua orang kurang mengtahui tentang apa itu antropologi, cabang ilmu ini bergerak dengan dinamis sekaligus melihat fenomena yang memang cenderung kurang dipahami orang orang umum. ketika zaman mulai merambah pada sebuah fenomena yang sudah lama ditinggalkan oleh masyarakat modern yaitu sebuah paham paranormal yang identik dengan dunia gaib atau mistisisme yang mengacu terhadap apa yang kita tidak dapat lihat tapi dapat kita rasakan. Parantropologi mungkin sebuah cabang ilmu yang belum begitu dikenal di Indonesia. Padahal yang kita ketahui sebagai orang Indonesia, mistisisme dan ilmu mengenai gaib itu sangat kental di indonesia hingga saat ini pun prakteknya pun masih sangat mudah ditemui di masyarakat. Parantropologi mempelajari tentang kepercayaan paranormal dengan studinya mengenai praktik dan fenomena dari perspektif antropologi. Studi ini tidak hanya mengandalkan cabang ilmu antropologi, akan tetapi cabang ilmu yang lain seperti parapsikologi, sejarah, folklor, psikologi, dan sosiologi.

Seperti yang dikatakan dalam simposium yang diadakan oleh South Western Association Anthroplogy (SWAA) pada tahun 1980 yang berjudul “Impersonal, Personal, and Transpersonal: Paradigm Shifting, Anthropology Coming of Age.”. Di dalam simposium tersebut para ahli antropologi memisahkan pengertian dan kajian ilmu parapsikologi dan antropologi dalam hal mengkaji fenomena paranormal dengan segala pengetahuan dan prakteknya. Dalam Parantropologi, kita mengkaji apa yang dinamakan sebuah fenomena yang melibatkan alam bawah sadar yang sudah didapat oleh manusia selama dia hidup dan tetap menjadi sebuah kepercayaan dan kebiasaan yang “biasa”.

Dalam masyarakat Indonesia sendiri belum banyak yang mengenal apa itu parantropologi dan apa kajian dari bidang tersebut. Seringkali ini dikenali dengan parapsikologi yang banyak muncul di acara-acara televisi. Hal itu dikarenakan parapsikologi menjelaskan bagian yang tidak pernah dimengerti oleh manusia mengenai hal-hal yang kurang dipahami oleh nalar logika. Mungkin hal ini bisa dipahami oleh orang yang telah menganut theosofi, hal itu terdapat dalam tujuan theosofi yang ketiga yaitu Menyelidiki hukum-hukum alam yang belum dapat diterangkan dan kekuatan-kekuatan dalam manusia yang masih terpendam.

terlepas dari itu semua kita sebagai masyarakat yang telah mengalami perkembangan ke arah dimana masyarakat sendiri mengalami penuntutan untuk menggali kekuatan-kekuatan yang berada diluar diri manusia, mungkin bisa dilihat sebagai orang yang melampaui batasan-batasan tertentu. Disadari atau tidak tergantung manusia itu sendiri itu menikmatinya sebagai gaya hidup atau dinamika dari sebuah peradaban manusia yang tidak bisa dielakkan kembali.

Sehingga alangkah baiknya seorang manusia ini lebih kembali menarik diri dari semua apa yang disebutkan “berubah fungsi” dari sebuah kegiatan-kegiatan atau bentuk-bentuk dari dinamika hidup dan kembali ke akar bawah (Grass root) agar dapat lebih mudah dimengerti bahwa seseorang itu mempunyai “akar” yang cukup kuat dalam kehidupannya yaitu akar budaya atau kelokalan yang mempunyai nilai luhur yang baik. disamping juga tetap di gawangi dengan apa yang namanya Agama dengan segala dogmanya. Parantropologi sendiri menguak segala fenomena tersebut dan memilah yang mana bagian budaya, religi, dogma, dan ideologi yang ingin disampaikan dari fenomena yang berkembang tersebut.