Antropologi Kesehatan, Perspektif “sakit” Dokter dan Pasien

‘Penyakit’ – Perspektif Dokter

Seperti yang sudah dijelaskan, pengetahuan modern mengenai kesehatan menjadi beberapa bagian, seperti nilai-nilai kesehatan, teori tentang penyakit, aturan tentang kelakuan-perlakuan, dan pengaturan hierarki spesialisasi kesehatan. Profesi kesehatan ini seperti proses pengobatan “sub-kultur” dengan bagian dunia yang mereka lihat. Premis dasar dari dari perspektif kesehatan bias dijelaskan sebagai berikut:

  1. Ilmu pengetahuan rasional
  2. Penekanan terhadap objek, pengukuran yang numeric
  3. Penekanan terhadap data yang psiko-kimia
  4. Dualisme Perasaan-tubuh
  5. Entitas “penyakit”

Obat-obatan, sebagai pengetahuan barat pada umumnya diketahui sebagai dasar dari pengetahuan yang rasional untuk sebuah penyakit. Semua asumsi dan hipotesis harus sudah teruji dan diverifikasi, obejektivitas, dan terkontrol. Sehingga mulai dari diagnosis hingga cara pengobatan yang diberikan oleh dokter seluruhnya diberikan ketika pemeriksaan secara kedokteran yang identik dengan keberadaan hukum-hukum dan aturan-aturan yang sudah ditetapkan oleh ilmu kedokteran. Ketika sudah dilakukan  dari keseluruhan diagnosis baru dari hasil pemeriksaan tersebut ditetapkanlah cara-cara penyembuhan secara ilmu kedokteran. Sehingga segala yang ditentukan oleh dokter tersebut berdasarkan “model konseptual” yang sudah baku dan terukur untuk penyakit. Dari model tersebut menunjukan bahwa ilmu kesehatan barat sangat bergantung terhadap berjalannya sistem organ tubuh dengan baik atau dengan kata lain “sesuatu yang nyata”, mereka tidak mengacu pada aspek psikologi dan sosiokultural dari pasien tersebut.

Ilmu pengetahuan Barat berbeda dengan ilmu pengobatan tradisional yang mengutamakan terhadap komunikasi yang lebih banyak terhadap pasien, dalam percakapan yang panjang lebar antara penyembuh dan pasien pun akan mencapai dimana penyembuh dapat memahami kondisi psikologis dan sosiokultural dari pasien tersebut, sehingga penyembuh dalam tradisonal lebih mengutamakan “perasaan” dari pasien tersebut. Mulai dari sejarah penyakit tersebut hingga tanda-tanda antisipasi penyakit yang sudah diketahui oleh pasien itu sendiri. Sehingga dalam pengobatannya sendiri Penyembuh lebih mengacu terhadap kenyamanan pasien, hal tersebut itu juga yang membuat orang-orang yang tidak puas akan pengobatan modern yang tidak memperhatikan kondisi psikis dari pasien.

Konsep medis mengenai sehat-sakit sendiri berdasarkan obyek pasien yang mengalami perubahan kondisi psikis dari struktur tubuh berdasarkan pengukuran psikologis yang dianggap “normal”. Perubahan “abnormal”, Atau “penyakit”, sering dilihat “entitas”, dengan personalitas dari pasien tersebut. Seperti pemikiran Fabrega dan Silver, asumsi dan perspektif mengenai  suatu “penyakit” ini akan sama dalam budaya dan masyarakat manapun, akan tetapi itu tidak tidak pengaruhi oleh sosial dan dimensi psikologi sehat-sakit dari pasien dan lingkungan sekitar.

“Sakit” – Perspektif Pasien

Cassel menggunakan kata “Sakit” ketika pasien merasakan sesuatu dan dan pergi ke dokter, ketika sudah berobat dan divonis telah sembuh menurut dokter, pasien tetap merasakan “sakit” tapi sebenarnya secara diagnosis dokter pasien tersebut telah sembuh. Hal ini disebabkan oleh pengaruh dan persepsi yang dia dapat dari lingkungan tempat pasien tersebut berada, juga tergantung pasien menanggapi pengaruh-pengaruh tersebut.

Perspektif pasien menyakit “sakit” merupakan bagian pemikiran konseptual dari kesatuan pikiran-pikiran yang lebih luas untuk menjelaskan hal-hal yang tidak biasa tersebut. Semua hal ini sering dikaitkan oleh sesuatu yang tidak rasional menurut nalar manusia, mulai dari ilmu penyihir hingga kutukan dewa yang disebabkan oleh pelanggaran moral yang fatal. Sehingga untuk menanggulangi hal-hal itu pasien biasanya melakukan doa-doa atau penyesalan terhadap apa yang dilakukannya di masa lalu. Itu semua menyangkut psikologis, sosial dan dimensi moral yang berkaitan dengan kesulitan-kesulitan kebudayaan. Hal tersebut cukup luas untuk diterjemahkan, konsep “sakit” terhadap pasien hanya dapat dijelaskan oleh pasien itu sendiri, tergantung bagaimana pasien menanggapi dan menginterpretasi “sakit” yang dia derita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s