free counters

Advertisements

10 Agenda Kerja Freemasonry

Freemasonry secara bahasa terdiri dari dua kata, Free dan Mason. Free artinya merdeka dan mason artinya tukang bangunan. Dengan demikian Freemasonry secara etimologis berarti “tukang-tukang bangunan yang merdeka”.
Secara hakikat, Freemasonry atau Al-Masuniyyah (dalam bahasa Arab) adalah sebuah organisasi Yahudi Internasional bawah tanah yang tidak ada hubungannya dengan tukang-tukang bangunan yang terdapat pada abad pertengahan.
Freemasonry di atas juga tidak ada hubungannya dengan kegiatan pembangunan kapal atau katedral besar seperti yang banyak diduga oleh sebagian orang. Tetapi maksudFreemasonry di sini adalah tidak terikat dengan ikatan pihak manapun kecuali sesama freemason.
Freemasonry berasal dari gerakan rahasia yang dibuat oleh sembilan orang Yahudi di Palestina pada tahun 37 M, yang dimaksudkan sebagai usaha untuk melawan pemeluk Masehi, dengan cara pem*bunuhan terhadap orang per-orang.
Menurut buku Kabut-kabut Freemasonry, salah seorang yang disebut sebagai pendirinya adalah Herodes Agrida I (meninggal 44 M). Ia dibantu oleh dua orang Yahudi, Heram Abioud dan Moab Leomi.Freemasonry selanjutnya menempatkan dirinya sebagai musuh terhadap agama Masehi maupun Islam.
Pada tahun 1717 M gerakan rahasia ini melangsungkan seminar di London di bawah pimpinan Anderson. Ia secara formal menjabat sebagai kepala gereja Protestan, namun pada hakikatnya adalah seorang Yahudi. Dalam seminar inilah gerakan rahasia tersebut memakai namaFreemasonry sebagai nama barunya. Sebagai pendirinya adalah Adam Wishaupt, seorang tokoh Yahudi dari London, yang kemudian mendapatkan dukungan dari Albert Pike, seorang jenderal Amerika (1809-1891).
Organisasi ini sulit dilacak karena strukturnya sangat rahasia, teratur, dan rapi. Tujuan gerakan Freemasonry secara umum adalah:Menghapus semua agama, menghapus sistem keluarga, mengkucarkacirkan sistem politik dunia, selalu bekerja untuk menghancurkan kesejahteraan manusia dan merusak kehidupan politik, ekonomi, dan sosial negara-negara non-Yahudi atau Goyim (sebutan dari bangsa lain di luar Yahudi).
Tujuan akhir dari gerakan Freemason adalah mengembalikan bangunan Haikal Sulaiman yang terletak di Masjid Al-Aqsha, di kota Al-Quds (Yerussalem), mengibarkan bendera Israel, serta mendirikan pemerintahan Zionis Internasional, seperti yang diterapkan dalam Protokol para cendekiawan Zionis.
Buku Protokol ini berisikan langkah-langkah yang telah ditetapkan oleh para hakkom, catatan pembicaraan yang dilakukan di dalam setiap rapat mereka,serta berisikan 24 bagian (ayat) yang mencakup rencana politik, ekonomi, dan keuangan, dengan tujuan menghancurkan setiap bangsa dan pemerintahan non-Yahudi,serta menyiapkan jalan penguasaan bagi orang-orang Yahudi terhadap dunia Internasional.
Dalam gerakannya, Freemasonry menggunakan tangan-tangan cendekiawan dan hartawan Goyim, tetapi di bawah kontrol orang Yahudi pilihan. Hasil dari gerakan ini di antaranya adalah mencetuskan tiga perang dunia, tiga revolusi (Revolusi Perancis, Revolusi Amerika, dan Revolusi Industri di Inggris), melahirkan tiga gerakan utama (Zionisme, Komunisme, dan Nazisme)
Freemansory terbagi ke dalam tiga tingkatan:
(1) Majelis Rendah atau Freemansory Simbolis;
(2) Fremansory Majelis Menengah; dan
(3) Fremansory Majelis Tinggi.
Dalam penerimaan keanggotaan, Freemasonry tidak mempersoal*kan agama calon anggota. Bahkan calon anggota disumpah sesuai dengan agama yang dianutnya. Dalam Freemasonry diadakan model kenaikan pangkat hingg level ke-33 bagi orang-orang Goyim. Orang-orang yang berhasil dijaring kemudian diberikan tugas untuk menyebarkan pahamFreemasonry dan bekerja untuk mereali*sasikan tujuannya.
Orang-orang tertarik kepada Freemasonry karena mereka menganggap bahwa organi*sasi ini bergerak di bidang kemanusiaan. Di balik itu mereka menanamkan doktirn Pengembangan Agama atau Polotisme, yang mengatakan semua agama itu sama, baik, dan benar. Lebih jauhFreemasonry dengan secara halus membawa anggotanya memahami Atheisme.
Freemasonry, organisasi Yahudi yang telah didirikan sejak lebih kurang tahun 900 SM, memiliki sepuluh program internasional.
Program ini dalam istilah Freemasonry dinamakan Harar atau Satanim, berlambangkan gurita berkaki sepuluh ular berbisa berkepala sepuluh, dan hantu penerkam berkuku baja.
Program Pertama
Program pertama dalam istilah Freemasonry dinamakan Takkim.
Pada masa Isa a.s.
Orang orang yahudi dengan segala tipu daya ingin membunuh Nabi Isa a.s. diantaranya fitnahan keji “ingin menjadi Raja Yahudi”yang disampaikan pada penguasa Romawi. Tetapi Allah SWT menyelamatkan Nabi Isa a.s. dan gantinya Yudas tersalib di Golgota. Maka setelah tiadanya nabi Isa, Yahudi berusaha menghancurkan ajran yang sudah disebarkan dengan “Takkim” yaitu :
# Merusak ajarannya yang ada seperti menghalalkan yang halal dan sebaliknya.
# Merusak akidah dengan doktrin Trinitas.
# Merusak Injil yang ada dengan Injil palsu.
# Saul (Paulus) dijadikan tandingan Nabi Isa a.s.
Pada Masa Islam
# Pada masa Rasulullah orang-orang Yahudi memupuk Munafiqin dan Muhadin. Mereka diantaranya berusaha menfitnah istri Nabi, mengacaukan ajaran Islam, memecah belah kaum Anshor dan Muhajirin.
# Memecah belah Ali r.a dan Muawiyah r.a. sehingga Aisyah turun tangan.
# Membuat ratusan hadist-hadist palsu, memsukkan dongeng Israiliyat merubah penafsiran Al-Quran dan sebagainya.
# Mendangkalkan aqidah umat dengan filsafat Yunani sehingga timbul aliran kerahiban, tarikat sufi, mu’tazilah dan sebagainya. Maka datangalah filsuf-filsuf Islam yang menguraikan akidah islam dengan jalan filsafat Yunani, menuruti pikiran Aflatun (Plato), Aristun (Aristoteles) dan lainya.
# Membuat lembaga pendidikan Islam yang dipimpin seorang alim didikan Freemasonry yang menafsirkan Alquran dan hadist dengan alam pikiran Freemasonry.
# Menhidupkan sunnah-sunnah jahiliah dengan alasan melestarikan adat istiadat nenek moyang.
# Menjadikan Islam supaya Tasyabbuh dengan Nasrani dan agama lain, diantaranya dengan memasukkan bentuk nyanyian gereja ke masjid, ulang tahun dan sebagainya
Program Kedua
Program kedua dinamakan “Shada” dalam istilah Freemasonry berarti membentuk agama baru dan agama tandingan di seluruh dunia.
# Salah satunya yaitu di India ketika Islam bangkit untuk kembali ke Alquran dan Hadist dan mengobarkan Jihad fisabilillah, pihak penjajah Inggris bekerja sama denganFreemasonry mendirikan gerakan anti Jihad. Antara lain yaitu dengan menggalakkan sufi dengan perantara ulama bayaran anggota Freemasonry . Ditunjukkanya seorang Freemason “ Mirza Ghulam Ahmad”, ia mendakwakan dirinya sebgai Nabi akhir zaman , Bhuda awatara, Krisna, dan semacamnya.
# Rabithah Alam islami yang bersidang di Makkah 14-18 Rabiul Awal1394 memutuskan bahwa Ahmadiyah itu bukan Islam dan berkaitan dengan Zionisme.
# Dan kasus-kasus “aliran sesat islam” yang beredar di indonesia seperti sholat dua bahasa dan lainya, kemungkian besar berkaitan dengan program Freemasonry.
Program Ketiga
Program ketiga dinamakan parokim, dalam istilah Freemasonry:
# Membuat gerakan yang bertentangan untuk satu tujuan Mengembangkan Freemasonry lokal dalam suatu negara dengan nama lokal, tetpi tiada lepas dari asas dan tujuan Freemasonry.
# Mendukung tori-teori bertentangan.
# Membangkitkan kufarat dan menyiarkan teori Sigmond Freud dan Charles Darwinsehingga antara antara Ilmu pengetahuan dan agama bersaing, kalah mengalahkan.
Program Keempat
Program keempat dinamakan Libarim, dalam istilah Freemasonry :
# Melenyapkan etika klasik yang mengekang pergaulan muda-mudi, termasuk melalui penyebaran kebebasan seksual.
# Mengahpus hukum yang melarang kawin antaragama untuk menurunkan generasi bebas agama.
# Pengambangan pendidikan seks di sekolah-sekolah
# Persamaan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal “kedudukan waris” dan “pakaian”.
# Mengembalakan pemuda-pemudi kedunia khayali, dunia musik, dan narkoba. Serta membuat bet satan (rumah setan) untuk menampung pemuda-pemudi kealamnya.
# Mengorganisir kaum lesbian, guy, lutherianserta pengakuan hak mereka dalam hukum.
Program Kelima
Program kelima dinamakan Babill, dalam istilah Freemasonry yakni memupuk asas kebangsaan setiap bangsa dan menjaga kemurnian bangsa Yahudi.
Program Keenam

Program Keenam ini dinamakan Onan dalam istilah Freemasonry:
# Mengekang pertumbuhan bangsa Goyim (orang selain Yahudi).
# Menyuburkan perempuan-perempuan Yhaudi menjadi peridi.
Program Ketujuh

Program ketujuh dinamakan protokol. Dalam istilah Freemasonry, protokol khusus untuk program bangsa Yhaudidalam Suhyuniah (zionisme) yang dimulai dengan pengantar protokol.

Isi protokol adalah tentang rencana Yahudi untuk menguasai dunia, diantaranya peghancuran ekonomi suatu negara, penghancuran moral suatu bangsa dan banyak lagi. Dengan program protokol bangsa Yahudi dapat menjadi penguasa ekonomi dunia, pengatur Politikdan penerangan dunia.
Program Kedelapan

Program kedelapan ini disebut Gorgah, dalam istilah Freemasonry :

# Untuk merusak para pemimpin negara, ulama dan partai, mereka harus dijerumuskan dalam pasar seks dengan seribu satu jalan. Pepatah Yahudi mengatakan”jadikanlah perempuan cantik untuk alat suatu permainan siasat.”
# Membuat jerat dan jala seks bagi seseorang yang terhormat. Jika namanya disiarkan sehingga kehormatanya jatuh.
# Menyebarkan agen Kasisah, yaitu intel Fremasonry untuk menghancurkan martabat lawan ditempat-tempoat maksiat.
# Mendirikan gedung perjudian terbesar dan modern.
# Melemahkan pasukan lawan dengan perempuan dan obat khusus.

Program Kesembilan

Program kesembilan dinamakan Plotisme yaitu:
# Mendidk alim ulama dalam Plotis yang pahamnya terapung ambang.
# Alim ulama plotis itu disebarkansebagai tenaga pengajar di sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga Islam.
# Alim ulama Plotis harus diangkat menjadi anggota kehormatan Freemasoonry.
Program Kesepuluh

Program kesepuluh ini dinamakan Qornun, dalam istilah Freemasonry :

# Orang-orang yang terpilih yang berbahaya bagi Freemasonry didukung agar menjadi kaya sehingga bergelimang harta, tetapi akhirnya di peras secara halus oleh suruhan Freeemasonry.
# Memberi dana pendidikan bagi pendidikan agama dalam hal berniaga, bertani, dan sebgainya sehingga mereka sibuk dalam keduniaan.
# Lawan-lawan Freemasonry agar terjerat riba dan bank Freeamsonry.
# Menghasut dan memberi jalan dengan berbagai cara agar para pejabat bank diluar bank Yahudi melakukan korupsi sehingga bank tersebut hancur dan kelak bank itu dibantu oleh bank Freemasonry dengan ikatan yang kuat. Bank itu akan bersiri kembalio dengan tujuh puluh lima persen modal Yahudi. Kemuidan pemimpin bank dan karyawan tersebut diberi ajaran Freemasonry dan menjadi anggotanya..
Sumber : http://forum.vivanews.com/showthread.php?t=28350

Rinding, Kesenian Yang Disembunyikan Zaman

A. Selayang Pandang

Sebagai masyarakat agraris yang penghidupannya mengandalkan bercocok tanam, budaya dan kesenian yang muncul di Gunungkidul pun tak bisa lepas dari sistem pertanian dan mata pencaharian mereka. Salah satu dari sekian banyak seni tradisi masyarakat Gunungkidul yang terpengaruh budaya agraris adalah Kesenian Rinding Gumbeng. Ditengah lajunya arus globalisasi, Kesenian Rinding Gumbeng tetap bertahan dengan kesederhanaannya.

Kesenian Rinding Gumbeng merupakan salah satu kesenian tradisional yang terdiri dari enam penabuh gumbeng, enam peniup rinding, dan tiga penyanyi perempuan yang biasa disebut dengan istilah penyekar. Rinding dan Gumbeng sendiri merupakan dua jenis alat musik yang terbuat dari bambu. Jika cara memainkan Rinding adalah ditiup, maka Gumbeng adalah alat musik yang ditabuh atau dipukul. Sementara itu, kostum yang dikenakan oleh para pemain Rinding Gumbeng hanyalah baju, dan celana warna hitam dengan ikat kepala dari kain batik. Untuk para penyekar, kostum yang dipakai adalah kebaya khas petani desa dengan kain lurik dan juga caping bambu.

Tidak ada data yang akurat mengenai, kapan kesenian ini mulai dimainkan. Hanya saja banyak warga mempercayai bahwa usia Kesenian rinding Gumbeng ini sudah sangat tua. Penggunaan bambu sebagai bahan utama pembuatan alat musik ditengarai bahwa kesenian ini muncul jauh-jauh hari sebelum masyarakat Gunungkidul mengenal logam dan masih mempercayai Dewi Sri sebagai Dewi Padi.

Pada mulanya, Rinding Gumbeng ini dimainkan seusai masyarakat merayakan panen pertama. Kala itu masyarakat mengarak hasil bumi terbaik sebagai persembahan untuk Dewi Sri dengan diiringi musik Rinding Gumbeng yang meriah. Selain sebagai ucapan syukur atas hasil panen yang telah diperoleh, masyarakat yang masih mempercayai sosok imajiner Dewi Sri sebagai dewi penjaga padi meyakini bahwa bunyi-bunyian yang dihasilkan oleh alat musik Rinding Gumbeng akan menyenangkan hati Dewi Sri. Ketika Dewi Sri terhibur dan bahagia, maka secara otomatis dia akan memberikan hasil panen yang lebih melimpah pada musim-musim berikutnya.

Tahun-tahun belakangan, Kesenian Rinding Gumbeng yang hanya ditemui di Desa Beji, Ngawen, Gunungkidul sudah mengalami transformasi. Rinding Gumbeng sudah jarang dimainkan dalam pesta panen masyarakat. Meski begitu, kesenian ini masih tetap lestari dan dapat dinikmati oleh masyarakat luas. Musik Rinding Gumbeng tidak lagi dimainkan dalam pesta panen melainkan dalan Upacara Nyadran Hutan Wonosadi. Selain itu, Rinding Gumbeng juga kerap ditampilkan dalam pentas budaya baik tingkat lokal maupun nasional.

B. Keistimewaan

Selain sebagai kesenian yang mampu menghibur masyarakat, Rinding Gumbeng juga mengandung kearifan sosial mengenai etos kerja rakyat Gunungkidul. Sederhana, ulet, dan dekat dengan alam, merupakan tiga hal yang ingin disampaikan melalui alat musik Rinding Gumbeng. Berbahan dasar bambu dan tidak neko-neko melambangkan kesederhanaan dan kedekatan dengan alam. Bahwa alam pun dapat digunakan untuk menciptakan nada-nada yang indah. Sedangkan ulet digambarkan dengan perlunya latihan khusus untuk mampu membunyikan Rinding. Meski terlihat sederhana, tidak semua orang mampu menghasilkan bunyi saat meniup rinding. Oleh karena itu diperlukan ketekunan dan keseriusan dalam berlatih.

Meski hanya terbuat dari bambu dengan bentuk sederhana, Rinding Gumbeng mampu menyajikan alunan musik yang khas, indah, dinamis, serta ekspresif. Rinding Gumbeng mampu mengiringi berbagai lagu yang dinyanyikan oleh para penyekar. Jika awalnya hanya untuk mengiringi lagu-lagu tradisional saja, saat ini sesuai dengan tuntutan jaman, banyak inovasi yang dilakukan supaya Kesenian Rinding Gumbeng mampu mengiringi aliran musik lainnya. Dengan penambahan berbagai alat ke dalam kelompok kesenian Rinding Gumbeng, maka saat ini Rinding Gumbeng bisa digunakan untuk mengiringi musik dangdut, keroncong, dolanan bocah, hingga campursari. Meski begitu, Rinding Gumbeng tetap mempertahankan karakter tradisionalnya.

Selain terdiri dari kelompok pemain Rinding dan Gumbeng serta penyekar, dalam acara festival atau nyadranan, terkadang pertunjukan Rinding Gumbeng akan diiringi penari. Selain itu, terkadang juga ada sosok wanita cantik yang melambangkan Dewi Sri, sang penjaga padi. Selain menampilkan pertunjukan yang menarik dan atraktif, biasanya para pemain Rinding Gumbeng tak akan segan untuk membagi ilmunya kepada pengunjung yang tertarik untuk mengetahui seluk beluk mengenai Rinding Gumbeng, atau mengajari mereka memainkan alat musik yang terbuat dari bambu tersebut.

C. Lokasi

Wisatawan yang tertarik untuk menyaksikan pertunjukan Rinding Gumbeng dapat berkunjung ke Hutan Wonosadi, Gunungkidul. Setiap tahunnya pada Upacara Nyadran, Rinding Gumbeng selalu menjadi salah satu kesenian rakyat yang dipertunjukkan. Selain itu, Anda dapat mengunjungi Dukuh Duren, Desa Beji, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul. Di tempat ini terdapat satu komunitas yang masih bertahan menjaga serta melestarikan kesenian Rinding Gumbeng.

D. Akses

Dukuh Duren terletak sekitar 35 kilometer arah Utara Wonosari. Akses menuju daerah ini sudah baik, jalan yang ada bisa dilalui oleh kendaraan roda dua ataupun roda empat. Bagi wisatawan yang tidak membawa kendaraan pribadi dapat memulai perjalanan dari Terminal Giwangan, Yogyakarta. Anda silahkan naik bus umum jurusan Jogja-Wonosari dan turun di Terminal Wonosari. Setelah itu, silahkan Anda berganti kendaraan dengan naik angkutan umum berwarna hijau yang melayani rute ke Kecamatan Ngawen. Selain menggunakan rute Jogja-Wonosari, wisatawan juga dapat mencapai tempat ini dari arah Klaten, Jawa Tengah.

that’s good !

Global Art Junkie

There’s something almost comforting in the surreal art of Alex Andreyev, as if some of the normalcy of life today would be sustained in his imagined future worlds.   (Above: Late, Below: Crossing)

I like the contrasts in Andreyev’s extensive fantasy portfolio, such as the near utopia called Trailing Gardens (below) against the encroaching evil in many of his works.

In Andreyev’s  “Separate Reality”  series, love abides, work goes on, pets get walked and the regularized motion of  daily life  continues, despite surrounding darkness.

Andreyev lives Saint-Petersburg, Russia. He’s been drawing, painting and doing graphic design for 20 years and now is creating the concept art for the Kin-Dza-Dza animation movie.  His website is here.  He’s on Behance, here.

View original post

Pengenalan Terhadap Antropologi Kesehatan

Pengenalan : Bagian Pembelajaran Antropologi kesehatan

Antropologi kesehatan itu bagaimana cara individu yang berasal dari kebudayaan dan kelompok sosial yang berbeda menjelaskan tentang sehat-sakit, tipe-tipe mereka mengadakan pengobatan yang mereka percayai, dan bagaimana cara menanggulanginya ketika mereka sakit kembali. Ini juga merupakan studi tentang kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan keadaan biologis dalam organisme manusia, dalam hal kesehatan dan penyakit.

Untuk menempatkan subjek dalam perspektif tersebut, penting untuk diketahui tentang sesuatu disiplin dari antropologi itu sendiri, bagian dari antropologi sendiri merupakan suatu studi komparatif yang baru. Antropologi dari Yunani, berarti studi tentang manusia, sering juga disebu sebagai bidang ilmu kemanusiaan yang sangat ilmiah dan ilmu pengetahuan yang manusiawi. Ilmu ini merupakan ilmu yang bersifat holistik yang berhubungan dengan manusia, termasuk asal-usul, pembangunan, organisasi politik dan sosial, agama, bahasa, seni dan artefak.

Antropologi merupakan studi lapangan yang mempunyai beberapa cabang. Antropologi fisik sering dikenal dengan “biologi manusia”- ini mempelajari tentang evolusi dari manusia dan itu berkonsentrasi pada penjelasan perbedaan di populasi manusia di masa lalu. Dalam penyelidikan dari prasejarah manusia itu menggunakan teknik Arkeologi, Paleontologi, Genetika, dan Serologi, serta studi tentang perilaku primata dan Ekologi.

Di Inggris sendiri Antropologi yang dominan disana adalah Antropologi Sosial dan segala yang mencakup kehidupan sosial manusia. Dalam ilmu kajiannya, budaya dipandang sebagai cara manusia mengorganisir dan melegitimasi masyarakatnya dan menambahkan aspek dasar seperti sosial, politik dan organisasi politik. Berbeda dengan di Inggris, Amerika Serikat memfokuskan Antropologinya terhadap sistem simbol, ide, dan makna yang meliputi kebudayaan tersebut.

Belakangan ini Antropologi mulai mengkaji lebih spesifik lagi tentang masyarakat tradisional. Dengan menggunakan teknik etnografi, studi komparatif , pendekatan sosiologi dan psikologi juga. Antropologi Kesehatan merupakan bagian yang dikaji lebih lanjut. Para peneliti Antropologi mempelajari tentang spectrum sosio-kultural yang menunjuk pada kepercayaan masyarakat dan praktek yang berkaitan dengan sehat-sakit. Kepercayaan ini mengarah terhadap sudut pandang kemalangan (termasuk kecelakaan, konflik interpersonal, bencana alam, gagal panen, dirampok atau kehilangan). Di sebagian masyarakat juga meyakini bahwa ada kekuatan supranatural yang bisa melakukan hal-hal yang merugikan bagi masyarakat atau individu tersebut. Kekuatan supranatural tersebut biasanya di dominasi oleh penyihir, kepercayaan-kepercayaan mengenai kutukan dewa-dewa dan kepercayaan melanggar norma dan adat yang menimbulkan akibat buruk. Pengertian tentang sehat-sakit dari sebuah masyarakat seluruhnya tergantung dari sebuah sistem kepercayaan yang berkembang. Sistem terkecil yang mengajarkan kepercayaan tersebut biasanya dari keluarga dan mulai merambah ke masyarakat. Sehingga interpretasi Antropologi harus mencapai dan menjelaskan tentang kepercayaan tersebut, dimana timbul ketakutan akan sakit-penyakit yang bisa ditimbulkan oleh tindakan tersebut.

Antropologi juga bukan satu-satunya ilmu yang berperan dalam hal ini tapi juga ilmu-ilmu lain seperti Mikrobiologi, Biokimia, Genetika, Parasitologi, Patologi, Nutrisi, dan Epidemiologi. Antropologi kesehatan mencoba menyelesaikan permasalahan kesehatan masyarakat dengan mengklasifikasikan penyebab dan sebab yang ditimbulkan, tapi tidak hanya Antropologi saja, Biologi kebudayaan juga diikutsertakan untuk mengetahui faktor alam yang mengakibatkan permasalahan kesehatan tersebut.

Antropologi Kesehatan, Perspektif “sakit” Dokter dan Pasien

‘Penyakit’ – Perspektif Dokter

Seperti yang sudah dijelaskan, pengetahuan modern mengenai kesehatan menjadi beberapa bagian, seperti nilai-nilai kesehatan, teori tentang penyakit, aturan tentang kelakuan-perlakuan, dan pengaturan hierarki spesialisasi kesehatan. Profesi kesehatan ini seperti proses pengobatan “sub-kultur” dengan bagian dunia yang mereka lihat. Premis dasar dari dari perspektif kesehatan bias dijelaskan sebagai berikut:

  1. Ilmu pengetahuan rasional
  2. Penekanan terhadap objek, pengukuran yang numeric
  3. Penekanan terhadap data yang psiko-kimia
  4. Dualisme Perasaan-tubuh
  5. Entitas “penyakit”

Obat-obatan, sebagai pengetahuan barat pada umumnya diketahui sebagai dasar dari pengetahuan yang rasional untuk sebuah penyakit. Semua asumsi dan hipotesis harus sudah teruji dan diverifikasi, obejektivitas, dan terkontrol. Sehingga mulai dari diagnosis hingga cara pengobatan yang diberikan oleh dokter seluruhnya diberikan ketika pemeriksaan secara kedokteran yang identik dengan keberadaan hukum-hukum dan aturan-aturan yang sudah ditetapkan oleh ilmu kedokteran. Ketika sudah dilakukan  dari keseluruhan diagnosis baru dari hasil pemeriksaan tersebut ditetapkanlah cara-cara penyembuhan secara ilmu kedokteran. Sehingga segala yang ditentukan oleh dokter tersebut berdasarkan “model konseptual” yang sudah baku dan terukur untuk penyakit. Dari model tersebut menunjukan bahwa ilmu kesehatan barat sangat bergantung terhadap berjalannya sistem organ tubuh dengan baik atau dengan kata lain “sesuatu yang nyata”, mereka tidak mengacu pada aspek psikologi dan sosiokultural dari pasien tersebut.

Ilmu pengetahuan Barat berbeda dengan ilmu pengobatan tradisional yang mengutamakan terhadap komunikasi yang lebih banyak terhadap pasien, dalam percakapan yang panjang lebar antara penyembuh dan pasien pun akan mencapai dimana penyembuh dapat memahami kondisi psikologis dan sosiokultural dari pasien tersebut, sehingga penyembuh dalam tradisonal lebih mengutamakan “perasaan” dari pasien tersebut. Mulai dari sejarah penyakit tersebut hingga tanda-tanda antisipasi penyakit yang sudah diketahui oleh pasien itu sendiri. Sehingga dalam pengobatannya sendiri Penyembuh lebih mengacu terhadap kenyamanan pasien, hal tersebut itu juga yang membuat orang-orang yang tidak puas akan pengobatan modern yang tidak memperhatikan kondisi psikis dari pasien.

Konsep medis mengenai sehat-sakit sendiri berdasarkan obyek pasien yang mengalami perubahan kondisi psikis dari struktur tubuh berdasarkan pengukuran psikologis yang dianggap “normal”. Perubahan “abnormal”, Atau “penyakit”, sering dilihat “entitas”, dengan personalitas dari pasien tersebut. Seperti pemikiran Fabrega dan Silver, asumsi dan perspektif mengenai  suatu “penyakit” ini akan sama dalam budaya dan masyarakat manapun, akan tetapi itu tidak tidak pengaruhi oleh sosial dan dimensi psikologi sehat-sakit dari pasien dan lingkungan sekitar.

“Sakit” – Perspektif Pasien

Cassel menggunakan kata “Sakit” ketika pasien merasakan sesuatu dan dan pergi ke dokter, ketika sudah berobat dan divonis telah sembuh menurut dokter, pasien tetap merasakan “sakit” tapi sebenarnya secara diagnosis dokter pasien tersebut telah sembuh. Hal ini disebabkan oleh pengaruh dan persepsi yang dia dapat dari lingkungan tempat pasien tersebut berada, juga tergantung pasien menanggapi pengaruh-pengaruh tersebut.

Perspektif pasien menyakit “sakit” merupakan bagian pemikiran konseptual dari kesatuan pikiran-pikiran yang lebih luas untuk menjelaskan hal-hal yang tidak biasa tersebut. Semua hal ini sering dikaitkan oleh sesuatu yang tidak rasional menurut nalar manusia, mulai dari ilmu penyihir hingga kutukan dewa yang disebabkan oleh pelanggaran moral yang fatal. Sehingga untuk menanggulangi hal-hal itu pasien biasanya melakukan doa-doa atau penyesalan terhadap apa yang dilakukannya di masa lalu. Itu semua menyangkut psikologis, sosial dan dimensi moral yang berkaitan dengan kesulitan-kesulitan kebudayaan. Hal tersebut cukup luas untuk diterjemahkan, konsep “sakit” terhadap pasien hanya dapat dijelaskan oleh pasien itu sendiri, tergantung bagaimana pasien menanggapi dan menginterpretasi “sakit” yang dia derita.

Kearifan Lokal Suku Sunda

Pendekatan KEARIFAN LOKAL

Pengertian Kearifan Lokal dilihat dari kamus Inggris Indonesia, terdiri dari 2 kata yaitu kearifan (wisdom) dan lokal (local). Local berarti setempat dan wisdom sama dengan kebijaksanaan. Dengan kata lain  maka local wisdom dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan, nilai-nilai-nilai, pandangan-pandangan setempat (local)  yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya.

Pendekatan Kearifan lokal adalah penggunaan metoda-metoda yang berasal dari nilai-nilai kebijaksanaan masyarakat lokal (terutama dari nilai-nilai budaya Sunda dulu) dalam menangani masalah lingkungan di lingkungannya.

KEARIFAN LOKAL SUNDA

Nilai-nilai budaya Sunda tua diperoleh dari suku Baduy Dalam, Kampung Naga dan desa-desa adat lainnya di daerah Sunda, yang diturunkan secara lisan dari orang-orang tua ke generasi dibawahnya, beserta prasasti-prasasti yang masih ada. Menurut orang-orang tua mereka diberi tahu bahwa ilmu mengenai tata ruang wilayah  dibuat pada abad 8 dan sudah dituliskan, pada abad ke 14, kitab-kitab tersebut dibawa oleh penjajah (Belanda dan Portugis) untuk kepentingan mereka. Kepentingan mereka adalah kepentingan ekonomi dengan merubah tatanan ruang di Indonesia, seperti halnya perkebunan teh dll.

Bahasa SUNDA berasal dari SUN DA HA, yang mengandung arti SUN adalah Diri, DA adalah Alam dan HA adalah Tuhan. Artinya kearifan lokal dapat digambarkan dengan mengidentifikasi tiga ranah (domain) tempat kearifan lokal itu berlaku. Ranah pertama adalah DIRI, yaitu hubungan antara manusia dengan manusia; kedua, ALAM, yaitu hubungan manusia dengan alam; dan ketiga TUHAN, hubungan manusia dengan Tuhan atau Sang Pencipta.

SUN, yang merupakan Diri, terwujud dalam hubungan pribadi dengan pribadi, pribadi dengan komunitas. Beberapa nilai-nilai kearifan lokal:

–    Hade ku omong, goreng ku omong (segala hal sebaiknya dibicarakan) keterbukaan dalam hubungan pribadi sebaiknya dibicarakan.

–    Undur katingali punduk datang katingali tarang ( pergi tampak tengkuk datang tampak pelipis) perilaku kita sebagai anggota komunitas harus diketahui oleh anggota komunitas lain.

–    Someah hade ka semah (Ramah dan baik terhadap tamu)

–    Mun aya angin bula bali ulah muntang kana kiara, muntang mah ka sadagori ( kalau ada angin putting beliung, jangan berpegang kepada pohon beringin tetapi pada rumput sadagori) rumput sadagori adalah tanaman kecil atau rumput dengan akar yang sangat kuat, yang diungkapkan sebagai rakyat kecil.

 

DA, yang merupakan hubungan manusia dengan alam dengan jelas diperlihatkan oleh komunitas adat Sunda, misalnya komunitas Baduy, Pancer Pangawinan, Kampung Naga, dan sebagainya. Dasar dalam melakukan cinta terhadap alam diungkap dalam ungkapan Suci Ing Pamrih Rancage Gawe . Antara manusia dan alam adalah bagian yang menyatu tidak terpisah. Masyarakat adat beranggapan bahwa mereka hidup “bersama” alam, dan bukan “di” alam seperti sikap kebanyakan anggota masyarakat modern. Oleh karena itu, masyarakat tradisional memiliki solidaritas yang lebih kuat dengan alam. Kegiatan terhadap alam terlihat pada ungkapan “Leuweung ruksak, cai beak, ra’yat balangsak ” (Hutan rusak, air habis, rakyat sengsara), atau “Leuweung kaian, gawir awian, legok balongan ” (Hutan tanami kayu, tebing tanami bambu, palung jadikan kolam).

HA, yang merupakan hubungan manusia dengan Tuhan tidak semata-mata diungkapkan dalam perilaku komunitas-komunitas itu, melainkan juga dalam ungkapan, seperti yang kita baca dalam buku Sang Hiang Siksa Kanda Ng Karesian (Terbit abad XVI), yaitu Tapa di nagara (Bertapa di tengah-tengah kehidupan sehari-hari). Bagi anggota komunitas tradisional, hidup itu sendiri adalah bertapa (ibadah). Hidup adalah menyucikan diri agar layak berhadapan dengan Tuhan Yang Maha suci.

Penggabungan terhadap ranah-ranah tersebut adalah Menyakini bentuk ibadah yang tertinggi dan rasa syukurnya kepada Sang pencipta adalah berupa : kebersamaan untuk menjaga alam, dan memelihara pohon.

ada istilah Sunda: Silih Asih, Silih Asah dan Silih Asuh , yang artinya adalah dalam melakukan pemulihan harus dengan rasa cinta kasih terhada alam, yang kemudian bagaimana kita mengasah kepekaan alam dengan terus belajar kepada alam sehingga kita bisa menentukan bagaimana kita hidup di alam. Apabila kita bisa melakukan pepatah Sunda ini hasilnya adalah Silih Wawangi , artinya bahwa hasilnya akan memberikan manfaat yang optimal terhadap masyarakat, tidak hanya kepada diri pribadi tetapi juga terhadap masyarakat banyak dan alam itu sendiri