Parantropologi, Dinamika dan ideologi

Antropologi, ketika semua orang kurang mengtahui tentang apa itu antropologi, cabang ilmu ini bergerak dengan dinamis sekaligus melihat fenomena yang memang cenderung kurang dipahami orang orang umum. ketika zaman mulai merambah pada sebuah fenomena yang sudah lama ditinggalkan oleh masyarakat modern yaitu sebuah paham paranormal yang identik dengan dunia gaib atau mistisisme yang mengacu terhadap apa yang kita tidak dapat lihat tapi dapat kita rasakan. Parantropologi mungkin sebuah cabang ilmu yang belum begitu dikenal di Indonesia. Padahal yang kita ketahui sebagai orang Indonesia, mistisisme dan ilmu mengenai gaib itu sangat kental di indonesia hingga saat ini pun prakteknya pun masih sangat mudah ditemui di masyarakat. Parantropologi mempelajari tentang kepercayaan paranormal dengan studinya mengenai praktik dan fenomena dari perspektif antropologi. Studi ini tidak hanya mengandalkan cabang ilmu antropologi, akan tetapi cabang ilmu yang lain seperti parapsikologi, sejarah, folklor, psikologi, dan sosiologi.

Seperti yang dikatakan dalam simposium yang diadakan oleh South Western Association Anthroplogy (SWAA) pada tahun 1980 yang berjudul “Impersonal, Personal, and Transpersonal: Paradigm Shifting, Anthropology Coming of Age.”. Di dalam simposium tersebut para ahli antropologi memisahkan pengertian dan kajian ilmu parapsikologi dan antropologi dalam hal mengkaji fenomena paranormal dengan segala pengetahuan dan prakteknya. Dalam Parantropologi, kita mengkaji apa yang dinamakan sebuah fenomena yang melibatkan alam bawah sadar yang sudah didapat oleh manusia selama dia hidup dan tetap menjadi sebuah kepercayaan dan kebiasaan yang “biasa”.

Dalam masyarakat Indonesia sendiri belum banyak yang mengenal apa itu parantropologi dan apa kajian dari bidang tersebut. Seringkali ini dikenali dengan parapsikologi yang banyak muncul di acara-acara televisi. Hal itu dikarenakan parapsikologi menjelaskan bagian yang tidak pernah dimengerti oleh manusia mengenai hal-hal yang kurang dipahami oleh nalar logika. Mungkin hal ini bisa dipahami oleh orang yang telah menganut theosofi, hal itu terdapat dalam tujuan theosofi yang ketiga yaitu Menyelidiki hukum-hukum alam yang belum dapat diterangkan dan kekuatan-kekuatan dalam manusia yang masih terpendam.

terlepas dari itu semua kita sebagai masyarakat yang telah mengalami perkembangan ke arah dimana masyarakat sendiri mengalami penuntutan untuk menggali kekuatan-kekuatan yang berada diluar diri manusia, mungkin bisa dilihat sebagai orang yang melampaui batasan-batasan tertentu. Disadari atau tidak tergantung manusia itu sendiri itu menikmatinya sebagai gaya hidup atau dinamika dari sebuah peradaban manusia yang tidak bisa dielakkan kembali.

Sehingga alangkah baiknya seorang manusia ini lebih kembali menarik diri dari semua apa yang disebutkan “berubah fungsi” dari sebuah kegiatan-kegiatan atau bentuk-bentuk dari dinamika hidup dan kembali ke akar bawah (Grass root) agar dapat lebih mudah dimengerti bahwa seseorang itu mempunyai “akar” yang cukup kuat dalam kehidupannya yaitu akar budaya atau kelokalan yang mempunyai nilai luhur yang baik. disamping juga tetap di gawangi dengan apa yang namanya Agama dengan segala dogmanya. Parantropologi sendiri menguak segala fenomena tersebut dan memilah yang mana bagian budaya, religi, dogma, dan ideologi yang ingin disampaikan dari fenomena yang berkembang tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s