karinding, lintas zaman

1.1  Alat Musik Karinding

Karinding adalah alat musik tradisional masyarakat sunda ladang yg terbuat dari batang pohon aren, ataupun ada yang bilang dari pelepah kawung dan bambu.  Konon katanya karinding ini alat musik yang cukup tua. Karinding sendiri tidak hanya ada di tatar sunda, malahan di daerah Jawa Tengah ada yang disebut Rinding dan di Bali disebut dengan Genggong. Alat musik tradisional yang dikategorikan sebagai permainan rakyat ini konon sudah ada di tanah Sunda sejak 300 tahun lalu. Karinding, demikian nama alat yang hanya bisa dimainkan dalam satu kunci nada.

“Jika hanya kunci F maka F saja, jika kunci G ya G saja,” jelas Dedi (42) dari Komunitas Hong dalam workshop karinding di even Bandung Kotaku Hijau, Lapangan Tegallega dari Sabtu-Minggu (2-3/8/2008). Jika akan memainkan nada lainnya, lanjut Dedi, pemain karinding cukup mengatur pernafasan.

Keberadaan karinding mungkin tidak banyak yang mengenal. Meski usianya telah lampau, tapi bentuk maupun suaranya masih terasa asing di telinga masyarakat Sunda pada umumnya. Karinding memiliki tiga bagian yaitu bagian jarum tempat keluarnya nada yang disebut cecet ucing (buntut kucing-red), lalu pembatas jarum, dan bagian ujung yang disebut panenggeul (pemukul-red). Panenggeul jika dipukul oleh tangan akan berfungsi untuk menggerakan jarum. Maka, keluarlah bunyi khas dari karinding. Dalam pembuatannya karinding melalui lima tahap pembuatan sampai bisa menjadi karinding yang benar-benar bisa dimainkan.

Alat musik ini ditabuh menggunakan jari tangan (telunjuk) dan memakai mulut kita sebagai resonatornya untuk menghasilkan suara, cukup mudah untuk siapa saja, dengan cara di pukul memperlakukan alat ini seperti alat musik perkusi, dengan menggunakan satu jari tangan, dan ketika kita sudah mampu menghasilkan getaran secara intens, dengan di tempelkan di mulut sebagai resonansi nya, dan lidah sebagai pengontrol bunyi yang kita inginkan.

Ada beberapa jenis suara yang dihasilkan, yaitu dengan mulut kosong tanpa napas dan dengan menggunakan napas, ini akan menghasilkan bunyi yang berbeda. Alat ini bisa menghasilkan suara yang khas dari tiap orang, sebutlah jenis melodi, rhytm dan bass nya bisa di hasilkan, atawa kendang, saron, goong nya kata orang sunda mah, bahkan menyanyikan lagu dengan karinding sekalipun, bukan dengan vokal kita, ini tergantung bagaimana kita bisa memainkan lidah dan napas.

Yang menarik dari Karinding ini adalah, Pertama dengan cara di pukul ini mampu menghasilkan  bunyi yang variatif cukup banyak. Kedua, suara tiap orang yang memainkan akan berbeda dengan yang lainnya, walaupun memainkan jenis pukulan (Rahel) yang sama , ini berbeda karena tiap orang memilki konstruksi mulut yang berbeda.

Biasanya karinding itu dimainkan pada malam hari oleh orang-orang sambil menunggui ladangnya di hutan atau di bukit-bukit, dan saling bersautan antara bukit yang satu dan bukit lainnya. Ternyata alat musik karinding bukan hanya sebagai alat untuk mengusir sepi dimalam hari tapi juga berfungsi untuk mengusir hama. Suara yang dihasilkan oleh alat musik karinding membuat hama padi tidak mendekat karena menyakitkan buat hama tersebut. Karena karinding tersebut menghasilkan suara dengan low decible yang hanya dapat didengar oleh insect seperti hama, dan sangat merusak konsentrasi hama tersebut.

1.2     Komunitas “Bandung Deathmetal Sindikat”

1.2.1  Awal Mula

”…Panceg dina galur/babarengan ngajaga lembur. Moal ingkah najan awak lebur…” (Teguh dalam pendirian, bersama-sama menjaga kampung dan persaudaraan. Tidak akan bergeming walaupun badan hancur lebur). Petikan naskah kuno Amanat Galunggung yang dituliskan Rakeyan Darmasiksa (Raja Sunda Kuno yang hidup pada 1175-1297 Masehi) itu disadur menjadi lirik lagu berjudul ”Kujang Rompang” oleh Jasad, sebuah band beraliran death metal asal Bandung. Lagu ini ikut memeriahkan Deathfest IV, festival akbar death metal yang diadakan di Lapangan Yon Zipur, Ujungberung, Bandung, Sabtu (17/10). Ribuan anak muda, mulai dari pelajar SMP hingga mahasiswa, larut dalam hiruk-pikuk event musik metal yang disebut-sebut terbesar di Asia ini. Filosofi panceg dina galur bukanlah sekadar inspirasi dalam berkarya musik bagi Jasad, melainkan juga menjadi pandangan hidup seluruh anggota dan penggemar musik metal di Bandung, khususnya yang bernaung di daerah Ujungberung. ”Mau seperti apa pun kita, macam mana bungkusnya, yang penting grass root (akar bawah) harus kuat. Harus sadar dan jangan lupakan budaya kita,” ujar Mohammad Rohman, vokalis Jasad.

Bagi masyarakat awam, bahkan dibandingkan komunitas band metal lainnya di Indonesia maupun dunia, keberadaan subkultur band death metal asal Ujungberung ini merupakan sebuah paradoks. Musik metal, tetapi lirik dan pesan nyunda adalah perpaduan yang sulit ditemukan di tempat lain. Ketika di banyak tempat sub-subkultur atas nama aliran musik berhaluan Barat macam punk, grunge, maupun grindcore gencar melakukan perlawanan budaya lokal, entitas penggemar musik metal Ujungberung yang berada di wadah Ujungberung Rebels dan Bandung Death Metal Sindikat itu justru melakukan hal sebaliknya. Sebagai contoh, konser Death Festival IV yang diikuti 12 band death metal itu mengangkat tema kampanye penggunaan aksara kuno. Di festival yang menjadi salah satu pembuka penyelenggaraan Helar Festival 2009 (festival industri kreatif di Bandung) itu, panitia membagi-bagikan leaflet mengenai cara menulis aksara sunda kuno kagana kepada penonton yang rata-rata masih berusia ABG. ”Di sekolah-sekolah, saya lihat, ini (kagana) tidaklah diajarkan. Daripada kelamaan menunggu pemerintah bertindak, kami duluan saja yang mulai bergerak,” ujar Rohman yang biasa disapa Man ”Jasad” ini di sela-sela konser.

1.2.2 Terbanyak di Dunia

Kelompok band metal yang ada di Ujungberung bahkan disebut-sebut yang terbanyak di dunia. Sejak awal 1990-an hingga kini, band-band metal tumbuh subur di Ujungberung. Saat ini terdapat sekitar 200 band metal hanya di wilayah pinggiran Kota Bandung ini. ”Padahal, Bandung hanya kota kecil jika dibandingkan dengan kota-kota di Jerman. Apalagi, di sini band-band ini kan harus dikondisikan bisa bertahan hidup di tengah banyak persoalan dan tekanan aparat,” tutur Philipp Heilmeyer, mahasiswa sosial-antropologi Goethe Universitat Frankfurt, terheran-heran. Philipp sudah tiga bulan ini berada di Bandung untuk melakukan prapenelitian mengenai kehidupan kaum metal di Ujungberung ini. Hal lain yang menarik perhatiannya adalah mengapa komunitas metal di Ujungberung ini bisa bertahan justru dengan tetap berpijak pada nilai-nilai tradisi.

”Di Jerman, kaum metal biasanya lekat dengan kebiasaan mabuk-mabukan dan narkoba. Tetapi, mereka di sini malahan melakukan ini,” ucapnya sambil merujuk kegiatan sosialisasi aksara kagana yang dilakukan Bandung Death Metal Sindikat. Yang disesalkan Aris Kadarisman (35), pentolan grup band Disinfected, masyarakat, khususnya kepolisian, melihat kaum metal justru dari sisi kelamnya. Perang melawan stigma bahwa musik metal tidak identik dengan kekerasan, narkoba, dan semacamnya menjadi semakin sulit pascatragedi konser maut grup band Beside di Asia Africa Culture Center yang mengakibatkan tewasnya 11 penonton, Februari 2008. ”Padahal, ini terjadi lebih karena persoalan teknis, tidak cukupnya kapasitas tempat,” ucapnya.

1.2.3  Kemandirian Ekonomi

Di tengah-tengah dorongan untuk mewujudkan mimpi memiliki gedung konser yang representatif, anak-anak metal ini seolah-olah terusir dari kota kelahirannya. Konser di gedung maupun tempat terbuka kini menjadi hal langka buat mereka. Deathfest IV pun bisa terwujud karena menggandeng kegiatan Helarfest 2009. Kondisi ini pun disayangkan Ketua Bandung Creative City Forum Ridwan Kamil. Menurut dia, jika dilihat lebih jauh dari dalam, komunitas metal di Bandung menyimpan keunggulan yang luar biasa besar. Keunggulan itu terutama soal kemandirian ekonomi. Dari musik yang diciptakan, didukung loyalitas para penggemarnya, secara tidak langsung itu menumbuhkan pula industri fesyen, rekaman, bahkan literasi. Setidaknya, ada enam titik simpul industri fesyen yang dirintis sesepuh band metal di Ujungberung semacam Scumbagh Premium Throath yang didirikan almarhum Ivan Scumbag dari Burgerkill. ”Jika musisi lain itu filosofnya adalah musik untuk kerjaan, kami justru sebaliknya. Dari kerjaan, bisnis, ya untuk menghidupi musik,” tutur Dadang. ”Sebab, musik ini adalah the way of life kami. Tidak semuanya bisa dinilai dengan uang. Art is art, money is money,” ucap Man Jasad menimpali. Tidak diragukan lagi, kekuatan ketabahan hati dan pikiran inilah yang membuat kelompok metal di Bandung ini tetap bertahan. Persis sesuai dengan paradigma mereka: panceg dina galur, moal ingkah najan awak lembur!.

1.3   Penggunaan Alat Musik Karinding

Seperti yang kita ketahui bahwa kita pernah liat alat-alat tradisional yang kebanyakan terbuat dari bambu, iyah tradisional sunda dengan karakter suaranya yang khas. Mungkin juga kita pernah mendengar musik yang dimainkan oleh beberapa orang yang bunyinya sangat unik. Mungkin kalian pernah dengar yang namanya Karinding. Sekarang ini cukup banyak komunitas Karinding yang sangat aktif dan peduli terhadap budaya tradisional, salah satu yang menjadi trigger-nya yaitu Karinding Attack.

Embrio dan menetasnya Karinding Attack dimulai tahun 2008, Mang Engkus dan Mang Utun memperkenalkan karinding kepada anak Bandung Syndicate, yaitu serikat pekerja Morbid Nixcotin, salah satu bagian dari Ujung Berung Rebels yang langsung jatuh cinta terhadap karinding ini “karena secara fisik, desain produknya bagus, dan suaranya enak, kalau main alat itu jadi tenang, enak buat dimainin dan enak buat dieksplor, bebas untuk bikin suara, dan tentu saja suaranya aneh dan unik”, tutur Kimung.

Awal mula karinding ini mulai diminati itu berkat Man Jasad dan Ki Ameng yang mencoba menguasai dan karinding, kemudian ‘menular’ ke Bandung Syndicate Morbid Nixcotine dan Bandung Death Metal Syndicate. Akhirnya lingkungan yang sering berinteraksi dengan mereka mulai memainkan karinding, dan cepat menyebar karena merasakan perasaan yang sama dan ditambah gosip bahwa karinding pernah hilang beberapa ratus tahun yang lalu menjadi suatu nilai eksotis tersendiri.

Karinding Attack merupakan kumpulan orang-orang yang memiliki peranan penting terhadap kelestarian karinding, mereka bukan hanya sebagai kumpulan pemain alat musik, tapi mereka pun sering melakukan workshop dan pengenalan alat-alat tradisional ini. Mereka mengajarkan dan mengenalkan bagaimana karinding ini bisa menjadi sesuatu yang sangat berharga. Untuk kumpulan pemainnya, setiap personil memegang peranan sendiri, ada yang berperan membuat lirik, musik dasar, membuat beat-beat groovy, dan aransemen bareng-bareng. Yang paling menarik adalah part vocal, dimana alunan suara yang ditembangkan sangat eksotis, apalagi dengan lirik khas Karinding Attack yang ‘menyentol’ dan ‘menyentil’.

“Lirik yang dibuat adalah apa yang kita rasakan, tidak beniat untuk menyentol atau menyentil siapapun, kalau ada yang tersentol dan tersentil ya berarti dia merasa kita menyentil dan menyentol dia” tutur Kimung. Jangan salah lho kalo musik seperti yang dimainkan oleh Karinding Attack ini ga punya fans setia, atau cuma disukai oleh orang-orang yang udah tua, kalian salah kalo punya pikiran kaya gitu. Banyak banget yang terlibat di Karinding Attack ini, mulai dari anak muda local bahkan manca Negara, mereka sering banget menonton Karinding Attack pas latihan sekalipun. Bahkan, ada Jurnal Karinding Attack yang selalu mengupdate jadwal dan kegaiatan Karinding Attack yang bisa diakses di www.jurnalkarat.wordpress.com.

Personil Karinding Attack gak hanya berasal dari Bandung lho, ada yang bernama Jawis dari Yogyakarta dan ada yang bernama Alice dari Finland. Ini membuktikan, betapa terbuka lebarnya musik tradisional ini untuk siapapun dan memang tidak perlu dipakemkan ke dalam satu wilayah atau kultur tertentu. Bukti lain mungkin, mereka tidak membawakan karinding dengan pakem yang baku. “Saya banyak terinspirasi dari God flesh, Panthera, Tarawangsa, Gending-gending Jawa, Rampak Perkusi Nias dan Toraja, dan juga dari daerah lain yang digabungkan dalam aransemen Karinding Attack”, Kimung menambahkan.

Melihat perkembangan ini, masa depan karinding optimis bisa dikembangkan dan dilestaraikan, dengan banyak munculnya pengrajin karinding juga membantu kelestarian karinding ini, dan munculnya beberapa kelompok karinding juga membantu kelestarian yang akan ditakutkan akan diam statis disitu. Mungkin harus diingat juga, tidak ada kebudayaan yang bisa bertahan lama tanpa adanya kolaborasi dan keasadaran kolaborasi ini hanya bisa dilakukan apabila kita menghargai keberagaman. Kolaborasi dapat dilakukan dengan apapun itu, bisa metal, punk rock, atau electronic.

 

 Daftar Pustaka

http://papathong.wordpress.com/2009/04/11/karinding-sebagai-pengusir-hama/

http://bandung.detik.com/read/2008/08/04/082505/982259/492/karinding-permainan-rakyat-sunda-dari-300-tahun-lalu

http://www.suavemagz.com/2010/10/31/karinding-attack/

http://commonroom.info/2010/ambience-of-nature-rekaman-karinding-attack-oleh-addy-gembel/

http://www.kasundaan.org/id/index.php?option=com_content&view=article&id=58:metal-bandung&catid=1:berita&Itemid=85

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s